Dilema Berpuasa di Negara Minoritas Islam - Mahfud RM Blog

Terbaru

06 June 2017

Dilema Berpuasa di Negara Minoritas Islam

Oleh: Asrul Mahfud

Islam adalah agama yang begitu indah, semua amal ibadah telah diatur dengan baik, termasuk tentang tatanan hidup dan ibadah berpuasa. Dinegara yang mayoritas islam, puasa dibulan ramadhan menjadi momen yang sangat dinantikan, bagaimana tidak seluruh umat islam yang tinggal di kawasan mayoritas islam berbondong bondong melakukan ibadah bersama, dalam kondisi yang seperti ini tentu akan memudahkan ibadah yang kita lakukan tanpa ada kendala dan hambatan yang berarti bagi umat islam. Bulan ramdhan diyakini oleh umat islam yakni bulan yang penuh keberkahan. Dalam bulan ini kita diwajibkan mengendalikan hawa nafsu, seperti tidak makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari, menjaga pandangan, serta mengandalikan syahwat.

Namun bagaimana halnya nasib umat muslim yang berada di Negara minoritas Islam. Untuk melaksanakan ibadah berpuasa saja perlu perjuangan yang berat, apa lagi untuk melaksanakan ibadah yang lain.

Dalam permasalahan ini banyak kasus menimpa umat muslim yang tinggal di kawasan minoritas Islam diantaranya ialah:

Pada Tahun 2015 Muslim Uighur di Tiongkok Dipaksa Tak Puasa

Di kutip dari www.asliindonesia.net pada tahun 2015 yang lalu muslim Uighur di Tiongkok dipaksa tidak berpuasa oleh pemerintah setempat. Hal ini sangat disayangkan, dikarenakan banyak para muslim yang tinggal di daerah tersebut.

Total ada 20 juta umat muslim di negeri tirai bambu. Namun di banding etnis lain di tiongkok, muslim yang paling mengalami hambatan adalah warga Uighur. Selain dilarang beribadah, mereka dilarang menggunakan bahasa Uighur. Situs budaya Uighur pun rutin dihancurkan oleh pemerintah satempat.

Di Swedia Umat Muslim Berpuasa Selama 20 Jam

Di swedia umat Muslim berpuasa dari jam 01.57 hingga 21.39. dibandingkan dengan negri sendiri, masyarakat muslim menjalankan puasa dari subuh hingga magrib yang berkisar antara 13- 14 jam.

Muslim di Republik Malawi Dilarang Berpuasa Ketika Bulan Ramadhan

Republik Malawi, adalah sebuah negara sekuler yang terdapat di daratan Afrika bagian selatan. Malawi berbatasan dengan Tanzania di sebelah utara, Zambia di barat laut, dan Mozambik di timur, selatan dan barat. Di Malawi, seperti disebut dalam Wikipedia, Islam adalah agama kedua (12,8%) setelah Kristen dari sekitar 16 juta penduduk negara ini pada 2013.

Perlakuan kasar diterima oleh muslim dari majikan kristennya. Bulan Ramadhan bagi kebanyakan Muslim yang bekerja untuk majikan Kristen adalah pengalaman yang menyakitkan. Sebagian besar umat muslim yang bekerja untuk majikan kristen ada yang tidak berpuasa.

Muslim Di Myanmar

Etnis muslim Myanmar saat ini mengalami banyak kesulitan ketika berurusan dengan pemerintah karena praktik diskriminasi yang sudah meresap di masyarakat. Sehingga tak heran lagi kerap kali terjadi penindasan bagi kaum muslim. Terlebih lagi pada saat bulan Ramadhan, para tentara Myanmar memaksa umat muslim untuk makan pada siang hari.
Dikutib dari wikipedia Islam di Myanmar termasuk dalam agama minoritas, dengan persentase sekitar 4% dari jumlah penduduk di seluruh Myanmar.

Muslim di Thailand

Di tahun 2015 Dilansir dari laman Bangkokpost menuliskan bahwa hanya terjadi sekitar 13 kasus kekerasan. Jumlah yang menurun drastis dibandingkan dengan beberapa periode lalu dimana angka kekerasan mencapai 48 kasus.

Muslim Thailand berada di wilatah selatan, mayoritas menempati wilayah Pattani. Kini di Pattani ada sekitar 2 juta penduduk Muslim, muslim Pattani menjadi mayoritas di tengah sejumlah kecil penduduk non muslim yang hanya sekitar 200.000. Selain di Pattani, muslim Thailand pun tersebar di beberapa provinsi wiayah Gajah Putih itu, antara lain di Yala (68,9%), Narathiwat, Satun (67,8%), dan Songkhla.


Banyak kasus yang menimpa umat muslim yang tinggal di negara minoritas islam, hal ini menyadarkan kita bahwa masih rendahnya rasa solidaritas dinegara tersebut. Bahkan ada yang sampai melakukan tindak kejahatan kepada saudara umat muslim. Hal ini sangat disayangkan mengingat pada bulan Ramadhan adalah bulan yang lebih baik dari pada seribu bulan. Oleh karena itu kita sebagai umat muslim yang tinggal di daerah mayoritas islam harus banyak bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberi kenyamanan dalam beribadah pada bulan Ramadhan serta mendoakan para saudara kita yang tinggal di daerah minoritas agar diberi kemudahan oleh Allah SWT.