Makalah Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keikut Sertaan dan Keefektifan Kelompok - RM Tutorial

Terbaru

04 May 2017

Makalah Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keikut Sertaan dan Keefektifan Kelompok

Assalmualaikum kawan kawan
kali ini saya akan membagika makalah,
admin minta maaf karena makalah nya berantakan, jika ingin mendownload silahkan

Disini  atau via zippyshare:  Disini
Pasword rar : www.mahfudrm.xyz





MAKALAH KOMUNIKASI KELOMPOK

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEIKUT SERTAAN DAN KEEFEKTIFAN KELOMPOK

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah komunikasi kelompok jurusan komunikasi dan penyiaran islam

Dosen pembimbing :
Drs.H.M.Sufi Abd.Muthalib M.Pd

Oleh kelompok 2 :
Asrul Mahfud                           (160401023)
Zulkarnaini                              (160401024)



JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UIN AR-RANIRY
2017

 

 

 

 

BAB I PEMBUKA

Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Deddy Mulyana, (2005).
Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat.
Keikut sertaan serta keefektifan kelompok didapat melalui kerja sama antara setiap individu dalam kelompok, melaksanakan tugas kelompok, dan memelihara moral anggota-anggotanya.








BAB II PEMBAHASAN


A.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kefektifan kelompok

Keefektifan kelompok adalah “the accomplishment of the recognized objectives of cooperative action[1]. Di dalam sebuah kelompok, terdapat anggota-anggota yang mempunyai tujuan yang sama dan mereka akan bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan tersebut adalah [2]:
1.      melaksanakan tugas kelompok
Hasil dari tujuan ini, akan ditentukan dari hasil kerja kelompok tersebut atau yang disebut dengan prestasi (performance).
2.      memelihara moral anggota-anggotanya
Hasil dari tujuan ini, akan ditentukan dari tingkat kepuasaan (statisfaction).
Contoh:
·         Anak unit 1 KPI membentuk sebuah kelompok pecinta foto, yang bertujuan untuk saling berbagi informasi mengenai bagaimana tips dan trick memfoto yang baik, benar, dan sekaligus menarik. Maka keefektifannya jika ditinjau dari hasil kerja kelompok tersebut adalah seberapa banyak informasi yang dapat mereka terima, sedangkan dari segi kepuasaan adalah sejauh mana kelompok merasa puas dengan apa yang telah mereka pelajari dan mereka praktekan.
·         Dalam sebuah rapat komite kelas, yang bertujuan untuk menusun program kerja sekolah. Maka keefektifannya jika dilhat dari hasil kerja kelompok komite kelas tersebut adalah seberapa banyak informasi masukan yang diberikan oleh setiap anggotanya, sedangkan dari segi kepuasaan adalah sejauh mana komite kelas merasa puas dengan program kerja yang telah mereka susun dan yang telah mereka setujui.
Oleh karena itu, faktor-faktor  keefektifan kelompok dapat dilacak pada : karakteristik kelompok (faktor situasional), dan karakteristik para anggotanya (faktor personal)[3].

Faktor situsional: Karakteristik Kelompok
1.      Ukuran Kelompok
Hubungan antara ukuran kelompok dengan prestasi kerja kelompok (performance) bergantung pada jenis tugas yang harus diselesaikan oleh kelompok[4].  Tugas kelompok dapat dibedakan menjadi:
a.       tugas koaktif
Tugas koaktif adalah masing-masing dari anggota kelompok saling bekerja sejajar dengan anggota lain, tetapi tidak ada interaksi didalamnya[5]. Maka semakin banyak jumlah anggotanya, maka semakain besar juga pekerjaan yang harus diselesaikan. Contoh: satu orang dapat memindahkan tong sampah ke sau bak truj dalam 10 jam, maka 10 orang dapat memindahkan pekerjaan tersebut dalam satu jam. Jadi, semakin banyaknya jumlah anggotanya yakni 10 orang, pekerjaan yang harus diselesaikan untuk mengangkut tong sampah ke dalam truk juga akan semakin banyak karena setiap anggota tidak saling berinteraksi untuk mengerjakan tugas tersebut, atau dengan kata lain mereka mengerjakan pekerjaan tersebut secara mandiri.
b.      tugas interaktif
Tugas interaktif adalah anggota-anggota kelompok berinteraksi secara terorganisasi untuk menghasilkan produk, keputusan atau penilaian tunggal[6]. Contoh: jika dalam menyelesaikan pekerjaan mengangkut sampah, para anggota saling berinteraksi atau saling bahu membahu dalam menyelesaikan pekerjaan. Maka tenaga, waktu yang dikeluarkan juga akan semakin berkurang.

Sedangkan ukuran dari sebuah kelompok dapat dibedakan menjadi :
a.       kelompok kecil
Kelompok kecil adalah kelompok yang terdiri dari satu atau dua komunikan yang dalam situasi komunikasi memiliki kesempatan untuk memberikan tanggapan secara verbal[7]. Kelompok kecil sangat produktif apabila dalam sebuah kelompok mempunyai tujuan untuk memecahkan sebuah masalah dengan benar, dan hanya memerlukan sumber sedikit atau keterampilan yang terbatas. Karena dalam kelompok kecil komuniaktor bisa lebih melakukan komunikasi didalamnya, begitu juga dengan anggota kelompok tersebut akan lebih banyak mendapatkan kesempatan berpartisipasi atau mengemukakan pendapatnya.
Dalam kelompok kecil terdapat suatu solidaritas dinamis yang disebut Clovis R Shepperd sebagai kohesi, yaitu kekuatan yang mengikat anggota, derajat keakraban dan kehangatan satu sama lain, hasratnya untuk menjadi terbuka dalam menyatakan gagasan dan perasaan dan kemampuannya untuk menghadapi kesulitan dan kegentingan yang mungkin menimpa mereka sebagai kelompok[8]. Sedangkan keuntungan dari kelompok kecil adalah terdapatnya umpan balik seketika (immediate feedback) dari komunikan atau anggota.
b.      kelompok besar
Kelompok besar adalah komunikasi dengan sekelompok komunikan yang jumlah pesertanya besar, situasi komunikasinya pun tidak memungkinkan terjadinya umpan balik verbal[9]. Sedangkan dari segi komunikasi, makin besar kelompok, makin besar kemungkinan sebagian besar anggota tidak mendapat kesempatan berpartisipasi[10]. Seperti contoh: dalam rapat kelompok anggota DPR yang membahas sebuah RUUD Indonesia. Sang komunikator akan menjadi pusat perhatian dari sang peserta/komunikan. Sedangkan sang peserta hanya akan mengikuti alur sidang tersebut, tanpa berpartisipasi/berkontribusi didalamnya. Karena ruang lingkup untuk mereka berpartisipasi sangat besar, dan kesempatan/peluang yang ada sangatlah kecil.
2.      Jaringan komunikasi.
Jaringan komunikasi adalah suatu sistem yang saling berhubungan satu sama lain dan terkoordinir.
3.      Kohesi kelompok.
Kohesi kelompok didefinisikan sebagai kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok, dan mencegahnya meninggalkan kelompok. McDavid dan Harari (dalam Jalaluddin Rakmat, 2004) menyarankam bahwa kohesi diukur dari beberapa faktor sebagai berikut: ketertarikan anggota secara interpersonal pada satu sama lain; ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok; sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan personal.
Kohesi kelompok erat hubungannya dengan kepuasan anggota kelompok, makin kohesif kelompok makin besar tingkat kepuasan anggota kelompok. Dalam kelompok yang kohesif, anggota merasa aman dan terlindungi, sehingga komunikasi menjadi bebas, lebih terbuka, dan lebih sering. Pada kelompok yang kohesifitasnya tinggi, para anggota terikat kuat dengan kelompoknya, maka mereka makin mudah melakukan konformitas. Makin kohesif kelompok, makin mudah anggota-anggotanya tunduk pada norma kelompok, dan makin tidak toleran pada anggota yang devian.
4.      Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah komunikasi yang secara positif mempengaruhi kelompok untuk bergerak ke arah tujuan kelompok. Tugas dari seorang pemimpin adalah memfasilitasi dan mengoordinasikan ulasan yang behubungan dengan tugas serta mengarahkan energi supaya tugas selesai[11]. Kepemimpinan adalah faktor yang paling menentukan kefektifan komunikasi kelompok. Klasifikasi gaya kepemimpinan yang klasik dilakukan oleh White danLippit (1960). Mereka mengklasifikasikan tiga gaya kepemimpinan: otoriter; demokratis; dan laissez faire.
·         kepemimpinan otoriter
Kepemimpinan otoriter ditandai dengan adanya keputusan dan kebijakan diambil oleh pemimpin.
·         kepemimpinan demokratis
Kepemimpinan demokratis menmpilkan pemimpin untuk mendorong anggotannya untuk mengamnbil keputusan.
·         kepemimpinan laissez faire
Kepemimpinan laissez faire ditandai dengan kebebasan penh bagi kelompok untuk mengambil keputusan individual dengan partisipasi pemimpin yang minimal.
Seorang pemimpin perlu memperhatikan dinamika kelompok agar ia dapat membimbing dinamika itu demi tercapainya tujuan organisasi. Sementara itu dinamika kelompok mepersyaratkan pendidikan dalam kelompok. Maksudnya seseorang bisa saja menjadi pemimpin asalkan ia dapat mementingkan kebutuhan-kebutuhan kelompok dalam rangka menjalankan kepemimpinannya. Hal ini dapt dilakukan seorang dengan jalan melatih diri dalam kehidupan kelompoknya atau belajar meminpin dalam kelompok. Di tinjau dari segi ini, maka kepemimpinan meruapakan keseluruhan dari ketrampilan dan sikap serta merupakan merupakan suatu yang dapat dipelajari dan dapat diajarkan. Sehingga kepemimpinan dapat di pelajari dan dapat diajarkan, yaitu dalam bentuk latihan kepemimpinan (leadership training) untuk berbagai macam kelompok.


Faktor Personal Karakteristik Kelompok
1.      Kebutuhan interpersonal
William C. Schultz (1966) merumuskan Teori FIRO (Fundamental Interpersonal Relations Orientatation), menurutnya orang menjadi anggota kelompok karena didorong oleh tiga kebutuhan intepersonal sebagai berikut:
·         Ingin masuk menjadi bagian kelompok (inclusion).
·          Ingin mengendalikan orang lain dalam tatanan hierakis (control).
·         Ingin memperoleh keakraban emosional dari anggota kelompok yang lain.
2.      Tindak komunikasi
Mana kala kelompok bertemu, terjadilah pertukaran informasi. Setiap anggota berusaha menyampaiakan atau menerima informasi (secara verbal maupun nonverbal).
3.      Peranan
Seperti tindak komunikasi, peranan yang dimainkan oleh anggota kelompok dapat membantu penyelesaian tugas kelompok, memelihara suasana emosional yang lebih baik, atau hanya menampilkan kepentingan individu saja (yang tidak jarang menghambat kemajuan kelompok). Beal, Bohlen, dan audabaugh (dalam Rakhmat, 2004: 171) meyakini peranan-peranan anggota-anggota kelompok terkategorikan sebagai berikut:
·         Peranan Tugas Kelompok. Tugas kelompok adalah memecahkan masalah atau melahirkan gagasan-gagasan baru. Peranan tugas berhubungan dengan upaya memudahkan dan mengkoordinasi kegiatan yang menunjang tercapainya tujuan kelompok.
·         Peranan Pemiliharaan Kelompok. Pemeliharaan kelompok berkenaan dengan usaha-usaha untuk memelihara emosional anggota-anggota kelompok.
·         Peranan individual, berkenaan dengan usahan anggota kelompokuntuk memuaskan kebutuhan individual yang tidak relevan dengantugas kelompok.

Petunjuk Menciptakan Kelompok Yang Efektif
1.      Tujuan kelompok disusun secara jelas, operasional, dan relavan sehingga menciptakan kelompok saling ketergantungan positif dan membangkitkan tanggung jawab yang  tinggi dari setiap anggota untuk mecapai tujuan tersebut.
2.      Komunikasi dua arah dilakukan secara efektif sehingga para anggota dapat  membicarakan ide-ide dan perasaan mereka secara akurat dan jelas.
3.      Kepemimpinan dan partisipasi didistribusikan ke seluruh anggota kelompok. Sebab persamaan partisipasi dan kepemimpinan dapat memastikan semua anggota terlibat dalam kerja kelompok, bertanggung jawab terhadap pelaksanaan keputusan kelompok, dan puas dengan keanggotaan mereka.
4.      Kekuasaan didistribusikan antar anggota kelompok berdasarkan keahlian, kemampuan dan akses kee informasi, tidak pada kekuasaan pribadi.
5.      Prosedur pembuatan keputusan yang fleksibel sesuai dengan kebutuhan. Cara efektif membuat keputusan adalah konsensus atau kesepakatan bulat.
6.      Anggota mampu menampilkan kasus yang terbaik dan masuk akal dari setiap alternatif pemecahan masalah untuk membuat keputusan yang efektif dan efisien.
7.      Anggota mampu menghadapi konflik kepentinga dengan cara terlibat aktif dalam negosiasi pemecahan masalah. (di adaptasi dari jonhson, 2012)

B.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keikutsertaan kelompok


Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi partisipasi kelompok dalam suatu program, sifat faktor-faktor tersebut dapat mendukung suatu keberhasilan program namun ada juga yang sifatnya dapat menghambat keberhasilan program. Angell (dalam Ross, 1967: 130) mengatakan partisipasi yang tumbuh dalam kelompok dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang dalam berpartisipasi, yaitu:[12]
1.      Usia
Faktor usia merupakan faktor yang memengaruhi sikap seseorang terhadap kegiatan-kegiatan kekelompokan yang ada. Mereka dari kelompok usia menengah ke atas dengan keterikatan moral kepada nilai dan norma kelompok yang lebih mantap, cenderung lebih banyak yang berpartisipasi dari pada mereka yang dari kelompok usia lainnya.
2.      Jenis kelamin
Nilai yang cukup lama dominan dalam kultur berbagai bangsa mengatakan bahwa pada dasarnya tempat perempuan adalah “di dapur” yang berarti bahwa dalam banyak kelompok peranan perempuan yang terutama adalah mengurus rumah tangga, akan tetapi semakin lama nilai peran perempuan tersebut telah bergeser dengan adanya gerakan emansipasi dan pendidikan perempuan yang semakin baik.
3.      Pendidikan
Dikatakan sebagai salah satu syarat mutlak untuk berpartisipasi. Pendidikan dianggap dapat memengaruhi sikap hidup seseorang terhadap lingkungannya, suatu sikap yang diperlukan bagi peningkatan kesejahteraan seluruh kelompok.
4.      Lamanya tinggal
Lamanya seseorang tinggal dalam lingkungan tertentu dan pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan tersebut akan berpengaruh pada partisipasi seseorang. Semakin lama ia tinggal dalam lingkungan tertentu, maka rasa memiliki terhadap lingkungan cenderung lebih terlihat dalam partisipasinya yang besar dalam setiap kegiatan lingkungan tersebut.



























BAB III PENUTUP

Kesimpulan

1.      Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut.
2.      Keikut sertaan serta keefektifan kelompok didapat melalui kerja sama antara setiap individu dalam kelompok, melaksanakan tugas kelompok, dan memelihara moral anggota-anggotanya.
3.      Faktor-faktor  keefektifan kelompok dapat dilacak pada : karakteristik kelompok (faktor situasional), dan karakteristik para anggotanya (faktor personal).
4.      Fakor situasional kelompok terbagi pada: Ukuran kelompok, jaringan komunikasi, kohesi kelompok, dan kepemimpinan. Sedangkan faktor personal terbagi pada: kebutuhan interpersoanal, tindak komunikasi, dan peranan.
5.      Faktor yang memperngaruhi keikutsertaan kelompok: usia, jenis kelamin, pendidikan, lamanya tinggal.







DAFTAR PUSTAKA


Littlejohn, Stephen W. Teori Komunikasi Theories of Human Communication. Salemba Humanika.
Rakhmat, Jalaludin. Psikologi Komunikasi. Bandung: Januari 2012. PT Remaja Rosdakarya.
Shoelhi, Mohammad. Komunikasi Internasional Perspektif Jurnalistik. Simbiosa Rekatama Media. Bandung: Februari 2009.
Wildan Zulkarnain. DINAMIKA KELOMPOK Latihan kepemimpinan pendidikan. Jakarta . 2013: Bumi Aksara.
id.wikipedia.org






[1] Rakhmat, Jalaludin. Psikologi Komunikasi. Bandung:Januari 2012. PT Remaja Rosdakarya. Cet 28, hlm 157.
[2]Ibid, hlm 157.
[3]Ibid, hlm 157-158.
[4]Rakhmat, Jalaludin. Psikologi Komunikasi. Bandung:Januari 2012. PT Remaja Rosdakarya. Cet 28, hlm 158.
[5]Ibid, hlm 158.
[6]Ibid, hlm 158.
[7]Shoelhi, Mohammad. Komunikasi Internasional Perspektif Jurnalistik. Simbiosa Rekatama Media. Bandung: Februari 2009. Cet 1, hlm 51.
[8]Ibid. Cet 1, hlm 51.
[9]Ibid. Cet 1, hlm 52.
[10]Rakhmat, Jalaludin. Psikologi Komunikasi. Bandung: Januari 2012. PT Remaja Rosdakarya. Cet 28, hlm 159.
[11]Littlejohn, Stephen W. Teori Komunikasi Theories of Human Communication. Salemba Humanika. Cet 9, hlm 327.
[12] Id.wikipedia.org diakses pada tanggal 3 april 2017