Makalah Metode Dakwah - RM Tutorial

Terbaru

25 April 2017

Makalah Metode Dakwah

Assalamualaikum kawan-kawan.
kali ini admin akan membagikan makalah metode dakwah, makalah ini merupakan tugas mata kuliah ilmu dakwah yaitu hasil tugas kerja admin sendiri bersama kawan-kawan satu kelompok
admin minta maaf makalah nya berantakan
bagi yang ingin downloafd file aslinya silahkan download : Disini atau Disini

Pasword rar : www.mahfudrm.xyz


MAKALAH ILMU DAKWAH

METODE DAKWAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu dakwah jurusan komunikasi dan penyiaran islam

Dosen pembimbing :
Dr. Abizal Muhammad Yati Lc. M.A.

Oleh kelompok 2 :
              Asrul Mahfud                           160401023
              Chandra Winanda                     160401034
              Irza Ulya                                   160401004
              M. Rizky Hardi Wibowo          160401005
              M. Widyan                                160401020
              Zulkarnaini                               160401024



JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UIN AR-RANIRY
2016







Kata Pengantar



Puji syukur kehadirat Allah SWT yang karena anugerah dari-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang "Metode Dakwah" ini. Shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan menjadi anugerah serta rahmat bagi seluruh alam semesta.

Berdakwah, sebagaimana telah dibahas sebelumnya merupakan kegiatan wajib yang harus dijalankan oleh umat Islam. Hal ini dipahami secara sempit oleh beberapa kalangan sehingga esensi dakwah sering tidak tersampaikan akibat tidak memadainya seorang da’i dalam berperan sebagai penyampai pesan dakwah.
Dakwah merupakan kegiatan suci, sehingga siapa yang melakukannya diberi pahala. Untuk meneliti problem ketidakefektifan dakwah dewasa ini, kami berdiskusi yang akhirnya merumuskan beberapa kajian yang diinspirasi dari buku-buku bacaan baik cetak maupun laman di situs-situs internet. Pada intinya, dakwah sebagaimana kegiatan lain harus terkonsep agar berjalan dengan baik.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

Banda Aceh, Desember 2016

Penyusun




 

BAB I PENDAHULUAN


Hakikat metode al hikmah (hikmah) menjadi syarat mutlak suksesnya dakwah. Indikator kesiksesan dakwah bukan pada jumlah perndengar atau pemirsanya, juga bukan pada semarak, gelak tawa, dan tepuk tangan dari kelucuan dai, melainkan pada tercapainya tujuan dakwah yaitu seberapa banyak manusia yang kembali ke jalan Allah SWT. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan keluasan pengetahuan dakwah, baik yang bersumber dari Al-Qur’an, Al-Hadits maupun sejarah dakwah, mulai dari periode Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, dan seterusnya. Apa makna dan bagaimana hikmah tersebut hanya dapat diperoleh dari sumber-sumber tersebut.
Suatu diantara bagian yang harus ada hikmah dalam dakwah ialah metode dakwah. Penggunaan metode yang hikmah akan memudahkan suksesnya dakwah. Untuk itu dai harus (1) memilih metode dakwah yang sesuai tingkat kebudayaan dan kecerdasan objek dakwahnya, (2) memilih tempat, keadaan, dan waktu dakwah dilaksanakan. Jika dai tidak memperhatikan hal ini, maka dakwahnya akan ditanggapi dengan apatis atau tertawa karena lucu sementara substansinya tidak di perhatikan.
Dalam makalah ini akan memaparkan bagaimana cara menerapkan metode-metode dalam berdakwah agar apa yang disampaikan dapat dipahami, diambil hikmahnya untuk di terapkan dalam kehidupan sehari-hari.







BAB II PEMBAHASAN


A.    Pengetian metode dakwah

            Dari segi bahasa metode berasal dari dua kata yaitu “meta” (melalui) dan “hodos” (jalan, cara)[1].Dengan demikian kita dapat artikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Sumber yang lain menyebutkan bahwa metode bersal dari bahasa Jerman methodica, artinya ajaran tentang metode. Dalam bahasa Yunani metode berasal dari kata methodos yang artinya jalan. Dalam bahasa Arab disebut thariq[2]. Metode berarti cara yang telah diatur dan melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu maksud.
            Sedangkan arti dakwah menurut pandangan beberapa pakar atau ilmuan adalah sebagai berikut:
1.      Pendapat Bakhial Khauli, dakwah adalah suatu proses menghidupkan peraturan-peraturan Islam dengan dimaksud memindahkan umat dari suatu keadaan kepada keadaan lain[3].
2.      Pendapat syekh Ali Mahfudz, dakwah adalah mengajak manusia untuk mengerjakan kebaikan dan mengikuti petunjuk, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka dari perbuatan jelek agar mereka dapat kebahagiaan dunia dan akhirat[4]. Pendapat ini juga selaras dengan pendapat al-Ghazali bahwa amar ma’ruf nahi mungkar adalah inti gerakan dakwah dan penggerak dalam dinamika masyarakat islam.
3.      Menurut Al-Bayanuni (1993: 47) definisi metode dakwah (asalib al-da’wah) sebagai berikut “yaitu cara-cara yang di tempuh oleh pendakwah dalam berdakwah atau menerapkan strategi dakwah”.

Dari pendapat diatas dapat diambil pengertian bahwa metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang da’i (komunikator) kepada mad’u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih sayang[5]. Hal ini mengandung arti bahwa pendekatan dakwah harus bertumpu pada suatu pandangan human oriented menempatkan hargaan yang mulia atas diri manusia.


















B.     Bentuk Bentuk Metode Dakwah


ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ١٢٥
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (an-Nahl: 125)
Dari ayat tersebut dapat diambil pemahaman bahwa metode dakwah itu meliputi tiga cakupan, yaitu:
1.      Al-Hikmah (االحِكْمَة)
Bentuk madsarnya adalah “hukman” yang diartikan secara makna aslinya adalah mencegah, jika dikaitkan dengan hukum berarti mencegah dari kezaliman, dan jika dikaitkan dengan dakwah maka berarti menghindari hal hal yang kurang relavan dalam melaksakan tugas dakwah.
Sebagai metode dakwah, al-Hikmah diartikan bijaksana, akal budi yang mulia, dada yang lapang, hati yang bersih, dan menarik perhatian orang kepada agama atau Tuhan.
Ibnu Qoyim berpendapat bahwa pengertian hikmah yang paling tepat adalah seperti yang dikatakan oleh Mujahid dan Malik yang mendefenisikan bahwa hikmah adalah pengetahuan tentang kebenaran dan pengalaman. Hal ini tidak bisa dicapai kecuali dengan memahami Al-Qur’an, dan mendalami syariat islam serta hakikat iman[6].
Menurut Imam Abdullah bin Mahmud An-Nasafi, arti hikmah, yaitu: “Dakwah bil-hikmah” adalah dakwah dengan menggunakan perkataan yang benar dan pasti, yaitu dalil yang menjelaskan kebenaran dan menghilangkan keraguan.
Menurut Syeikh Zamakhasyari dalam kitabnya “al-Kasyaf”, al-Hikmah adalah perkataan yang pasti dan benar. Ia adalah dalil yang menjelaskan kebenaran dan menghilangkan keraguan atau kesamaran. Selanjutnya, Syeikh Zamakhasyari mengatakan hikmah juga diartikan sebagai Al-Qur’an yakni ajaklah mereka (manusia) mengikuti kitab yang memuat hikmah[7].
Dari beberapa pengertian diatas, dapat dipahami bahwa al-Hikmah adalah merupakan kemampuan dan ketepatan da’i dalam memilih, memilih dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi objectif mad’u. Al-Hikmah merupakan kemampuan da’i dalam menjelaskan doktrin-doktrin islam serta realitas yang ada dengan argumentasi logis dan bahasa yang komunikatif. Oleh karena itu, al-hikmah sebagai sebuah sistem yang menyatukan antara kemampuan teoritis dan praktis dalam berdakwah.

2.      Al-Mau’idza Al-Hasanah( اَلمَوعِظَةِ الْحَسَنَة)
Secara bahasa, mau’izhah hasanah terdiri dari dua kata, yaitu mau’izhah dan hasanah. Kata mau’izhah berasal dari kata wa’adza ya’idzu-wa’dzan-‘idzatan yang berarti; nasihat, bimbingan, pendidikan dan peringatan[8]. Sementara hasanah merupakan kebalikan dari sayyi’ah yang artinya kebaikan lawanmya kejelekan.
Adapun pengertian secara istilah, ada beberapa pendapat antara lain:
a.       Menurut Imam Abdullah bin Ahmad an-Nasafi yang dikutip oleh H. Hasanuddin adalah sebagai berikut :
“al-Mau’izhah al-Hasanah” adalah (perkataan-perkataan) yang tidak tersembunyi bagi mereka, bahwa engkau memberikan nasihat dan menghendaki manfaat kepada mereka atau dengan al-Quran[9].
b.      Menurut Abd. Hamid al-Bilali al-Mau’izhah al-Hasanah merupakan suatu manhaj (metode) dalam berdakwah untuk mengajak kejalan Allah dengan memberikan nasihat atau membimbing dengan lemah lembut agar meraka mau berbuat baik.
mau’izhah hasanah dapatlah diartikan sebagai ungkapan yang mengandung unsur bimbingan, pendidikan, pengajaran, kisah-kisah, berita gembira, peringatan, pesan-pesan positif (wasyiat) yang bisa dijadikan pedoman dalam kehidupan agar mendapatkan keselamatan dunia akhirat.
Dari beberapa definisi diatas, mau’izhah hasanah tersebut bisa diklarifikasi dalam beberapa bentuk:
1.      Nasihat atau petuah
2.      Bimbingan pengajaran (pendidikan)
3.      Kisah-kisah
4.      Kabar gembira dan peringatan (al-Basyir dan al-Nadzir)
5.      Wasiat (pesan-pesan positif)
Jadi, kalau kita telusuri kesimpulan dari mau’izhah hasanah, akan mengandung arti kata-kata yang masuk kedalam kalbu dengan penuh kasih sayang dan kedalam perasaan dengan penuh kelembutan; tidak membongkar atau membeberkan kesalahan orang lain sebab kelemah lembutan dalam menasihati sering kali dapat meluluhkan hati yang keras dan menjinakkan kalbu yang liar, ia lebih mudah melahirkan kebaikan dari pada larangan dan ancaman.

3.      Al-Mujadalah Bi-al-lati Hiya Ahsan( المجادلة با لتي هي احسن )
Dari segi etimologi (bahasa) lafazh mujadalah terambil dari kata “jadala” yang bermakna memintal, memilit. Kata “jadala” dapat bermakna menarik tali dan mengikatnya guna menguatkan sesuatu.
Menurut Ali al-Jarisyah, dalam kitab Adab al-Hiwar wa-almunadzarah, mengartikan bahwa “al-Jidal” secara bahasa bermakna pula “Datang untuk memilih kebenaran” dan apabila berbentuk isim “al-jadlu” maka berarti “pertentangan atau perseteruan yang tajam”[10]. Al-Jarisyah menambahkan bahwa, lafalz “al-jadlu” musytaq dari lafalzh “al-Qotlu” yang berarti sama-sama pertentangan, seperti halnya terjadi perseteruan antara dua yang saling bertentangan sehingga saling melawan/menyerang dan salah satu menjadi kalah.
Dari segi istilah (terminologi) terdapat bahwa pengertian al-mujadalah (al-hiwar). Al-mujadalah (al-hiwar) berarti upaya tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara senergis, tanpa adanya suasana yang mengharuskan lahirnya permusuhan diantara keduaanya[11]. Sedangkan menurut Dr.Sayyid Muhammad Tantawi ialah, suatu upaya yang bertujuan untuk mengalahkan pendapat lawan dengan cara menyajikan argumentasi dan bukti yang kuat.
Menurut tafsiran an-Nasafi[12], kata ini mengandung arti :
Berbantahan yang baik yaitu dengan jalan yang sebaik-baiknya dalam bermujadalah, antara lain dengan perkataan yang lunak, lemah lembut, tidak dengan ucapan yang kasar, atau yang mempergunakan sesuatu (perkataan) yang bisa menyadarkan hati, membangunkan jiwa dan menerangi akal pikiran, ini merupakan penolakan bagi orang-orang yang enggan melakukan perdebadatan dalam agama.
Dari pengertian diatas dapatlah diambil kesimpulan bahwa al-mujadalah merupakan tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima pendapat yang di ajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat. Antara satu dan lainnya saling menghargai dan menghormati pendapat keduanya berpegang pada kebenaran, mengakui kebenaran pihak lain dan ikhlas menerima hukuman kebenaran tersebut.



Selain menggunakan pendekatan yang disebutkan dalam A-Qur’an, dalam sebuah haditis nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan:
مَنْ رَاَى مِنْكُمْ مُنْكَرًافَاْليُغَيٍرْه بِيَدِهِ فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَا نِهِ وَانْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَالِكَ اَ ضْعَفُ اْلاِيْمَا نْ
 “Barang siapa di antara kamu melihat kemunkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu, maka cegahlah dengan lisanmu, jika tidak mampu, maka cegahlah dengan hatimu, dan mencegah kemungkaran dengan hati adalah pertanda selemah-lemah iman.” [ H.R. Muslim ].

Dari hadits dapat disimpulkan ada 3 (tiga) tahapan metode, yaitu:
1.      Metode dengan tangan (bil yad). Tangan secara tekstual diartikan sebagai tangan yang digunakan dalam menggunakan situasi kemungkaran. Secara tekstual kata “tangan” dapat diartikan sebagai kekuatan kekuasaan (power). Metode ini efektif bila dilakukan oleh penguasa yang berjiwa dakwah.
2.      Metode dengan lisan (bil lisan). Maksudnya dengan perkataan yang baik, lemah lembut dan dapat dipahami oleh penerima dakwah (mad’u), bukan dengan kata-kata sukar apalagi menyakitkan hati.
3.      Metode dengan hati (bil qalb). Tahapan ini digunakan dalam situasi yang sangat berat. Ketika mad’u sebagai penerima pesan menolak pesan yang disampaikan, mencemooh bahkan mendzalimi da’i, yang sebaiknya dilakukan oleh da’i ialah bersabar serta terus mendo’akan agar pesan dakwah dapat diterima suatu saat nanti.





C.    Sekilas Metode Dakwah Rasulullah SAW

Dakwah Rasulullah terbagi kedalam tiga metode[13]:
1.      Metode BI Lisanil Maqal ) (بلسان المقال
      Metode dengan menggunakan tutur kata secara lisan dalam menyampaikan pesan dakwahnya. Yang penting di catat dari metode ini adalah nabi tidak pernah menampilkan kelucuan yang berlebih-lebihan. Metode ini merupakan dasar acuan dari metode lisan seeperti yang diungkapkan diatas, namun tidak menampilkan aspek humornya.

2.      Metode Bi Lisanil Maktub ( بلسان المكتوب )
      Metode ini dilaksanakan nabi Muhammad melalui korespondensasi atau penyampaian surat ke berbagai pihak. Dalam sejarah dakwah Rasulullah ada sekitar 105 surat Nabi, dan dapat dibagi kedalam tiga kategori:
·         Surat yang berisi seruan masuk islam kepada nonmuslim (Yahudi, Nasrani, dan Majusi), Musyrikin, baik raja, amir, maupun perorangan.
·         Surat berisi ajaran islam (misalnya tentang zakat, sadaqah, dan lainnya). Sasarannya muslim yang jauh dari Madinah yang memerlukan penjelasan tentang ajaran islam.
·         Surat berisi tentang hal-hal yang wajib dikerjakan nonmuslim terhadap pemerintah islam (seperti tentang jizyah). Sasarannya adalah orang Yahudi dan Nasrani yang telah membuat perjanjian damai dengan Nabi.

3.      Metode Bi Lisanil Hal ( بلسان ا لحا ل )
      Sebuah  metode berdakwah melalui perbuatan dan prilaku konkret yang dilakukan secara langsung oleh Rasulullah.
      Rasulullah dalam kesehariannya biasa memberi hidangan makanan kepada para sahabat atau orang yang tampak kelaparan, meskipun seringkali Nabi sendiri dalam keadaan lapar. Hal ini sebagai indikasi Rasulullah memiliki sifat sosioligis yang tinggi. Dan hal ini dilakukan Rasulullah sebagai aktualisasi dan realisasi dari firman Allah dalam surat al-Maa’un,
أَرَءَيۡتَٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ١  فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ٢  وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ٣
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama. Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS. Al-maa’un: 1-3)
      Karena pribadi Rasulullah sendiri mengandung suri teladan. Dalam Al-Qur’an ditegaskan,
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ل  الأَخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)
      Seluruh pribadi Rasulullah juga dihiasi dengan akhlak mulia. Karena itu seluruh sikap dan prilakunya dalam semua aspek kehidupan menjadi suri teladan bagi umat islam.
Menutup dari bagian ini perlu ditegaskan bahwa semua metode dakwah, kecuali metode lisan dengan humor yang terlalu mengedepankan kelucuan sehingga menghilangkan tujuan dakwah. Untuk itu perlu kemampuan yang baik, kesabaran dalam  melakukannya serta keuletan dalam penerapannya. Sudah barang tentu penerapan suatu atau beberapa metode dalam suatu kegiatan dakwah harus mempertimbangkan situasi dan kondisi, tampat dan waktu serta faktor psikologis objek dakwah.

D.    Sumber-sumber  metode dakwah

Sumber-sumber metode dakwah[14]:
a.       Al-quran
Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang membahas tentang masalah dakwah. Di antara ayat-ayat tersebut ada yang berhubungan dengan para rasul dalam menghadapi umatnya. Selain itu, ada ayat-ayat yang ditujukan kepada Nabi muhammad Saw ketika beliau melanjarkan dakwahnya. Semua ayat-ayat tersebut menunjukkan metode yang harus dipahami dan dipelajari oleh setiap muslim. Karena Allah tidak akan menceritakan melainkan agar menjadi suri tauladan dan dapat membantu dalam rangka menjalankan dakwah berdasarkan metode-metode yang tersurat dan tersirat dalam Al-qur’an, Allah Swt berfirman:

وَكُلّٗا نَّقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَۚ وَجَآءَكَ فِي هَٰذِهِ ٱلۡحَقُّ وَمَوۡعِظَةٞ وَذِكۡرَىٰ لِلۡمُؤۡمِنِينَ ١٢٠

Dan semua kisah-kisah dari rasul-rasul yng kami ceritakan kepadamu ialah kisah-kisah yang dengannya dapat kamu teguhkan hatimu, dan dalam surat ini datang kedamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. (QS. Hud: 120)
b.      Sunnah Rasul
            Di dalam sunnah rasul banyak kita temui hadits-hadits yang berkaitan dengan dakwah. Begitu juga dalam sjarah hidup dan perjuangannya dan cara-cara beliau pakai dalam menyiarkan dakwahnya baik ketika beliau berjuang di makkah maupun di Madinah. Semua ini memberikan contoh dalam metode dakwahnya. Karena setidaknya kondisi yang di hadapi Rasulllah Saw ketika itu dialami juga oleh juru dakwah sekarang ini.



c.       Sejarah Hidup Para Sahabat dan Fuqoha’
Dalam sejarah hidup para sahabat-sahabat besar dan para fugaha cukuplah memberikan contoh baik yang sangat berguna bagi juru dakwah. Karena mereka adalah orang yang expert dalam bidang agama. Muadz bin jabal dan para sahabat lainya merupakan figur yang patut dicontoh sebagai kerangka acuan dalam mengembangkan misi dakwah.

d.      Pengalaman
Experience Is The Best Teacher, itu adalah motto yang punya pengaruh besar bagi orang-orang yang suka bergaul dengan orang banyak. Pengalaman juru dakwah merupakan hasil pergaulannya dengan orang banyak yang kadangkala dijadikan reference ketika berdakwah.
Setelah kita mengetahui sumber-sumber metode dakwah sudah sepantasnya kita menjadikannya sebagai pedoman dalam melaksanakan aktivitas dakwah yang harus disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang sedang terjadi.













BAB III PENUTUP


A.    Kesimpulan


Kesempulan yang dapat kita peroleh dalam pembahasan makalah ini adalah:
1.      Metode dakwah adalah cara-cara tertentu yang dilakukan oleh seorang da’i (komunikator) kepada mad’u untuk mencapai suatu tujuan atas dasar hikmah dan kasih saying dengan langkah-langkah sistematis dalam menyampaikan atau menyeru umat ke jalan Allah SWT sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Hal ini mengandung arti bahwa pendekatan dakwah harus bertumpu pada suatu pandangan human oriented menempatkan hargaan yang mulia atas diri manusia.
2.      Metode dakwah terdiri atas metode dakwah bil hikmah, bi mauidzatil hasanah, dan bil lati hiya ahsan (sumber ayat Al-Qur’an) serta bil yad (tangan), bil lisan (ucapan) dan bil qalb (hati). Ini mengacu pada hadits nabi.
3.      Sumber metode dakwah terdiri dari: Al-Qur’an, sunah Nabi, sejarah hidup para sahabat dan fuqoha’, serta pengalaman seorang da’i dalam menyampaikan pesan pesan dakwah.
4.      Kesuksesan dalam menyampaikan pesan dakwah ialah bukan pada jumlah perndengar atau pemirsanya, juga bukan pada semarak, gelak tawa, dan tepuk tangan dari kelucuan dai, melainkan pada tercapainya tujuan dakwah yaitu seberapa banyak manusia yang kembali ke jalan Allah SWT.

B.     Saran


Kami menyadari tentu masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan baik dari penulisan serta penyajian dalam Makalah ini, oleh sebab itu kami mengharapkan masukan-masukan dari Dosen Pembimbing Serta teman-teman guna kesempurnaan makalah yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA


Abdul Kadir Sayid Abd. Rauf, Dirasah Fid Dakwah al-Islamiyah, Kairo; Dar El-Tiba’ah al-Muhammadiyah, 1987.
Ali al-Jarisyah, Adab al-Khaiwar wa al-Mudhorah, (al-Munawarah: Dar al-Wifa, 1989).
Etika diskusi, Era Inter Media, 2001.
Ghazali Darussalam, Dinamika Ilmu Dakwah Islamiyah, Malaysia; Nur Niaga SDN. BHD, 1996.
Hasanuddin, hukum Dakwah, Jakarta; Pedoman Ilmu Jaya, 1996.
Ibnu Mandzur, Lisan al-Arab, Jilid VI (Beirut: Dar Fikr. 1990).
Ibnu Qoyyim, At Tafsiru Qoyyim, tth.
Lois Ma’luf, Munajid al-Lughah wa A’lam (Beirut: Dar Fikr. 1996.
M. Arifin, Ilmu pendidikan islam, Jakarta; Bumi Aksara, 1991.
M. Munir dkk, Metode dakwah, Jakarta; Kencana, 2006.
Makhfuld, Ki Musa A. Ilmu dakwah dan penerapannya, Jakarta; Bulan Bintang, 2004.
Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, Jakarta; Kencana, 2009
Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, Jakarta; Gaya Media Pramata,1998



[1]M. Arifin, Ilmu pendidikan islam, Jakarta; Bumi Aksara, 1991, Cet. 1, h. 61.
[2]Drs. H. Hasanuddin, hukum Dakwah, Jakarta; Pedoman Ilmu Jaya, 1996, Cet. Ke-1, h. 35.
[3]Ghazali Darussalam, Dinamika Ilmu Dakwah Islamiyah, Malaysia; Nur Niaga SDN. BHD, 1996, Cet. 1, h. 5.
[4]Abdul Kadir Sayid Abd. Rauf, Dirasah Fid Dakwah al-Islamiyah, Kairo; Dar El-Tiba’ah al-Muhammadiyah, 1987, Cet. 1, h. 10.
[5]Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, Jakarta; Gaya Media Pramata,1998 Cet. 1, h. 43.
[6]Ibnu Qoyyim, At Tafsiru Qoyyim, h. 226
[7] M. Munir dkk, Metode dakwah,(Jakarta; Kencana, 2006) Cet  ke-3 h. 10.
[8]Lois Ma’luf, Munajid al-Lughah wa A’lam (Beirut: Dar Fikr. 1996) h. 907, Ibnu Mandzur, Lisan al-Arab, Jilid VI (Beirut: Dar Fikr. 1990) h. 446.
[9]Hasanuddin, SH.,Hukum Dakwah (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya 1996) h. 37.
[10]Ali al-Jarisyah, Adab al-Khaiwar wa al-Mudhorah, (al-Munawarah: Dar al-Wifa, 1989) Cet. Ke-1, h. 19.
[11]Etika diskusi, Era Inter Media, 2001, Cet. Ke-2, h. 21.
[12] Hasanuddin, S.H., op.cit, h. 38.
[13] Makhfuld, Ki Musa A. Ilmu dakwah dan penerapannya, (Jakarta; Bulan Bintang, 2004), h. 108
[14] M. Munir dkk, Metode dakwah, (Jakarta; Kencana, 2006), Cet. Ke-3, h. 19.