Makalah Prinsip Komunikasi Islam - Mahfud RM Blog

Terbaru

26 April 2017

Makalah Prinsip Komunikasi Islam

A.    Pendahuluan
Ilmu komunikasi sebagai sebuah disiplin ilmu masih tergolong muda umurnya, karena baru muncul kepermukaan pada abad ke 20. Akan tetapi kajian  tentang kegiatan berkomunikasi telah banyak dilakukan sejak para filosof yunani, mulai dari kaum Sopist sampai kepada filosof lainnya seperti Aristoteles. Kajian Aristoteles (abad 5 SM s/d abad 3 M) yaitu tentang pemerintahan, sejarah dan filsafat, di mana retorika sudah menjadi suatu kajian penting. Dari sinilah awal mula ilmu komunikasi terus dikembangkan oleh para  ahli sosiologi, antropologi fisik pada abad ke-19 dan antropologi budaya, psikologi dan psikologi sosial pada abad ke-20. sehingga tidak salah kalau dikatakan bahwa kesemua ilmu tersebut adalah sebagai landasan ilmu komunikasi[1].
Syukur Kholil, menjelasakan bahwa setidaknya terdapat 11 (sebelas) prinsip komunikasi Islam yang dapat dijadikan sebagai pedoman oleh komunikator dalam berkomunikasi. Dimana ke-11 prinsip komunikasi tersebut tergambar secara tersurat dan tersirat dalam Al-Qur`an dan Hadis. Prinsip-prinsip dimaksud adalah sebagai berikut:
1.      Memulai pembicaraan (komunikasi) dengan mengucapkan salam.
2.      Berbicara dengan lemah lembut.
3.      Menggunakan perkataan atau tutur kata yang baik.
4.      Menyebut hal-hal yang baik (mengapresiasi) tentang diri komunikan.
5.      Menggunakan hikmah dan nasehat yang baik.
6.      Berlaku adil terhadap semua komunikan.
7.      Menyesuaikan bahasa dan isi pembicaraan dengan keadaan komunikan (berdasarkan kebutuhan).
8.      Berdiskusi dengan cara yang baik.
9.      Lebih dahulu melakukan apa yang akan dikomunikasikan atau disampaikan.
10.  Mempertimbangkan pandangan dan fikiran orang lain.
11.  Berdo’a kepada Allah ketika melakukan kegiatan komunikasi yang berat[2].

Perlu diketahui bahwa Alquran tidak membicarakan secara spesifik tentang komunikasi, namun jika ditelusuri secara mendalam akan makna-makna yang terkandung dalam Alquran, maka akan didapat beberapa ayat yang memberikan gambaran umum tentang prinsip-prinsip komunikasi. Alquran membicarakan istilahistilah atau ungkapan-ungkapan khusus yang dinyatakan sebagai wujud dari penjelasan prinsip-prinsip komunikasi dimaksud.

Jalaludin Rahmad (menyebutkan bahwa al-Syaukani dalam buku tafsirnya  “Fath al-Qair”, mendefinisikan al-bayan sebagai kemampuan dalam berkomunikasi. Untuk mengetahui bagaimana orang-orang seharusnya melakukan komunikasi, terlebih dahulu kita harus melacak kata kunci (key koncept) yang dipergunakan Alquran untuk berkomunikasi. Disamping itu, kata kunci untuk berkomunikasi yang paling banyak disebutkan dalam Alquran adalah al-qaul. Dengan memperhatikan kata al-qaul dalam kontek kalimat perintah, kita dapat menyimpulkan 5 (lima) prinsip dasar komunikasi, yaitu; Qaulan Sadida, Qaulan Baliga, Qaulan Maisura, Qaulan Layyina, dan Qaulan Ma’rufa[3].









B.     Prinsip-Prinsip Komunikasi Dalam Al-Qu`ran
1.      Qaulan Baliga
QS. An-Nisa: 63;
Artinya; Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (QS. An-Nisa’: 63).
Ayat di atas menginformasikan kepada kita tentang kebusukan hati kaum munafik. Dimana mereka tidak akan pernah patuh kepada Rasulullah Saw sekalipun mereka bersumpah atas nama Allah Swt, karena apa yang mereka kerjakan sematamata hanya menghendaki kebaikan. Walaupun demikian, Allah Swt melarang Rasulullah Saw untuk menghukum mereka secara fisik (pengertian dari “berpalinglah dari mereka”), akan tetapi Allah Swt menganjurkan untuk memberi nasehat berupa ancaman bahwa kekejian mereka akan mengundang azab Allah Swt. Nasehat tersebut
tentunya dengan qaulan baliga. Kata baliga merupakan bentuk masdar dari balaga, yang berarti sampai, atau sampainya sesuatu kepada sesuatu yang lain[4].
Al-Asfahani mengemukakan bahwa kata tersebut mengandung 3 (tiga) makna secara sekaligus, yakni: [1] bahasanya tepat; [2] sesuai dengan yang dikehendaki; dan [3] isi perkataannya adalah suatu kebenaran. Dalam konteks komunikator dan komunikan, kata tersebut dimaksudkan adalah seorang komunikator secara sengaja ingin menyampaikan sesuatu dengan cara yang benar dan tepat (jelas) agar dapat diterima oleh komunikan (audien)[5].



Dalam hal ini, para ahli balagah (ahli sastra) – sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab mengatakan bahwa suatu pesan atau perkataan baru dianggap baliga apabila memenuhi beberapa kriteria tertentu. Kriteria-kriteria dimaksud adalah sebagai berikut ini:
a.       Penggunaan kalimat mencakup seluruh pesan yang ingin disampaikan.
b.      Kalimatnya tidak berulang-ulang, dan juga tidak terlalu pendek/singkat sehingga pengertiannya menjadi kabur.
c.       Kosa kata yang digunakan tidak terkesan asing bagi komunikan.
d.      Kesesuaian kandungan dan gaya bahasa dengan komunikan.
e.       Tata bahasanya tepat dan jelas[6].

Dengan demikian, kata baliga merupakan salah satu teknik berbicara atau penyampaian pesan dengan menggunakan ungkapan atau kalimat yang tepat sasaran, jelas dan tujuannya tercapai, sehingga komunikasinya menjadi efektif. Dengan kata lain, baliga merupakan suatu kalimat yang singkat, tepat, padat dan jelas.
2.      Qaulan Maisura
QS. Al-Isra’/17: 28;
Artinya; Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas. (QS. Al-Isra’: 28)
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan permintaan suatu kaum kepada Rasulullah Saw, namun Rasulullah Saw tidak mengabulkan permintaan mereka. Penolakan Rasulullah Saw terhadap permintaan mereka bukanlah tanpa alasan, Karena Rasulullah Saw mengetahui bahwa mereka seringkali membelanjakan harta pada hal hal yang tidak bermanfaat. Berpalingnya Beliau merupakan semata-mata mengharap ridha Allah Swt, dan sebagai wujud dari sikap Beliau yang tidak mendukung kebiasaan buruk mereka dalam menghambur-hamburkan harta. Disamping berpaling, beliau juga menolaknya dengan perkataan yang tepat atau ucapan yang pantas agar tidak menyakiti perasaan mereka[7]. Kata Maisura merupakan bentuk masdar dari yassara, yang mempunyai arti mudah atau gampang[8].  Dengan demikian, dalam ayat di atas jelas bahwa diajarkan
kepada kita apabila kita tidak sanggup untuk memberi atau mengabulkan suatu permintaan, maka penolakan kita harus disertai dengan perkataan yang baik dan alasan yang rasional. Karena pada prinsipnya, qaulan maisura adalah segala bentuk perkataan yang baik dan melegakan (tidak menyakitkan), atau juga bisa dikatakan sebagai suatu pernyataan untuk menjawab dengan cara yang sangat baik dan tidak mengada-ada.

3.      Qaulan Qarima
QS. Al-Isra’/17: 23;
Artinya; Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al-Isra’: 23)
Kata Karima adalah bentuk masdar dari kata karuma, yang berarti mulia. Jika kata tersebut disandarkan pada Allah Swt, yakni Karim, maka berarti Allah Yang Maha Mulia. Bila disandarkan kepada manusia, maka mempunyai arti yaitu kebaikan budi atau perilaku dan kemuliaan akhlak[9].
 Bila kata tersebut dirangkai dengan qaul, maka berarti yaitu suatu perkataan yang menjadikan atau menempatkan pihak lain tetap dalam kemuliaan dan penuh penghormatan, atau perkataan yang bermanfaat bagi orang lain tanpa bermaksud menyakiti dan merendahkan.
Dalam ayat di atas, Alquran menjelaskan berupa petunjuk bagi kita bagaimana cara berperilaku dan berkomunikasi dengan baik dan benar dengan kedua orang tua sehingga tidak membuat mereka tersinggung, terutama sekali ketika keduanya atau salah satunya sudah lanjut usia. Karena seperti diketahui bahwa mereka yang sudah berusia lanjut, memilki sifat yang cendrung sangat sensitif dan mudah tersinggung.
Qaulan Qarima, dalam konteks hubungan atau komunikasi dengan kedua orang tua, pada hakikatnya adalah tingkatan tertinggi yang harus dilakukan oleh seorang anak. Dalam pengertiannya adalah bagaimana seorang anak berkomunikasi dengan baik terhadap kedua orang tuanya, namun mereka (kedua orang tua) tetap merasa dimuliakan dan dihormati sebagai orang tua. Sebagai contoh yang palingdekat adalah ketika seorang anak ingin menegur atau menasehati orang tuanya yang berbuat salah, dimana tutur kata (nasehat) yang disampaikan tetap menjunjung tinggi norma kesopanan dan tidak bermaksud menggurui. Disamping berbakti kepada orang tua merupakan suatu ukuran tingkatan penghambaan seorang anak (manusia) kepada Allah Swt. Karena seorang hamba akan mendapatkan keridhaan dari Allah Swt, bila hamba tersebut diridhai oleh kedua orang tuanya. Keridhaan kedua orang tua akan didapat dengan berbakti dan menjaga ucapan yang tidak menyakiti mereka.

4.      Qaulan Ma’rufa
QS. Al-Baqarah/2: 83;
Artinya; Dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. (QS. Al-Baqarah: 83)
QS. Al-Baqarah/2: 263;
Artinya; Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (QS. Al-Baqarah: 263)
QS. An-Nisa’/4: 8;
Artinya; Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. (QS. An-Nisa’: 8)
QS. Al-Isra’/17: 53;
Artinya; Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku; hendaklah mereka mengucapkan  perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS. Al-Isra’: 53)
Kata Ma’rufa berasal dari kata ‘arafa, yang mengandung pengertian dengan secara baik, ramah atau perkataan yang baik[10]
Berkenaan dengan qaulan ma’rufa,
Quraish Shihab mengungkapkan bahwa dalam Alquran sungguh sangat banyak dikemukakan hal-hal yang berkaitan dengan sikap dan perlakuan terhadap sesamemanusia. Dimana tidak hanya berisi larangan dalam bentuk kemungkaran, seperti membunuh, menyakiti badan, mengambil harta tanpa alasan yang benar, bahkan sampai menyakiti hati seseorang dengan menceritakan aib dibelakangnya walaupun diiringi dengan pemberian materi kepada orang yang disakiti. Disamping itu, Alquran juga menekankan bahwa setiap orang hendaknya memperlakukan saudaranya dengan
benar dan didudukkan atau diposisikan secara wajar[11]. Dengan demikian, Alquran – melalui qaulan ma’rufa – menuntun umat untuk senantiasa selalu bertutur kata dengan baik kepada setiap orang, karena tutur kata yang baik akan mengakibatkan kemaslahatan bagi semua orang. Sebaliknya, tutur kata yang buruk dan menyakiti hati orang akan menjadi awal dari perselisihan dan perpecahan antar sesama umat manusia.
Berkenaan dengan ini (qaulan ma’rufa), ada pepatah atau kata bijak yang berupaya menasehati atau mengingatkan manusia agar selalu menjaga tutur kata dalam berkomunikasi. Adapun bunyi dari pepatah tersebut adalah sebagai berikut:
Bila pedang melukai tubuh,
Masih ada harapan sembuh.
Bila lidah melukai hati,
Kemana obat hendak dicari.
Disamping itu juga ada beberapa petuah (hadih maja) Aceh yang pengertiannya lebih kurang untuk mewanti-wanti manusia dalam bekomunikasi, bunyinya adalah:
Tameututö bek leupah-leupah,
Peulara lidah yöh goh binasa.
Terjemahan; Bicara janganlah sampai terlanjur,
Peliharalah lidah sebelum menimbulkan malapetaka.
Asai kudé bak luka,
Asai paké bak meuseunda.
Terjemahan; Awal mula kudis dari luka kecil, Awal mula perselisahan
dan pertikaan adalah bercanda ria.

5.      Qaulan Layyina
QS. Taha/20: 43-44;
Artinya; [43] Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas; [44] Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (QS.Taha/20: 43-44)
Kata Layyina adalah bentuk masdar dari kata lana, yang mempunyai arti lunak, lemas, lemah lembut, halus akhlaknya[12].
 Ada juga yang mengartikannya
dengan sahlan latifa, yaitu mudah, lemah lembut[13].
Sedangkan yang dimaksuddengan qaulan layyina adalah perkataan yang mengandung anjuran, ajakan kepada kebaikan dan kebenaran (jalan Allah Swt), dengan tidak bermaksud merendahkan argument atau pandangan lawan bicara.
Dari isi kandungan ayat di atas, timbul satu pertanyaan besar adalah mengapa Allah Swt memerintahkan kepada Nabi Musa As dan Nabi Harun As untuk berbicara lemah lembut pada Fir’un? Padahal Fir’un adalah seorang raja yang zalim, sombong dan angkuh (sampai-sampai mengaku dirinya sebagai Tuhan). Perintah ini tidak lain merupakan sebagai pelajaran bagi setiap orang bahwa bagaimanapun (seburuk apapun) keadaan orang yang telah membesarkan kita atau berjasa dalam hidup manusia, maka kita harus bersikap baik dan berbicara lemah lembut kepadanya.
Karena sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa Nabi Musa As – dari kecil sampai dewasa hidup dalam lingkungan istana Fir’un, beliau diasuh dan dibesarkan oleh istri Fir’un yang bernama Asiah. Disamping itu, melihat status Fir’un sebagai seorang raja yang berkuasa dan cendrung bersikap kasar dan keras karena merasa dirinya lebih berkuasa, sehingga bila berbicara kasar dengannya maka ia merasa tidak dihormati sebagai seorang raja. Oleh sebab itulah Allah Swt memerintahkan kepada Nabi Musa As dan Nabi Harun As, untuk berbicara lemah lembut kepada Fir’un, karena kelembutan akan dapat melunakkan hati yang keras.

6.      Qaulan Sadida
QS. An-Nisa’/4: 9;
Artinya; Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa’: 9)
QS. Al-Ahzab/33: 70;
Artinya; Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. (QS. Al-Ahzab: 70)
Kata Sadida mempunyai arti adalah tepat, benar atau sesuatu yang tepat dan benar[14].
Adapun qaulan sadida diartikan sebagai suatu pendapat atau perkataan yang tepat dan benar serta argumentatif. As-Suyuti dan Al-Mahalli, mendefinisikan qaulan sadida sebagai suatu perkataan yang dikehendaki oleh setiap orang dan diridhai oleh Allah Swt, yakni setiap perkataan yang menciptakan kemaslahatan kepada sesame manusia dan ketaatan kepada Allah Swt[15].

QS. An-Nisa’ ayat 9, menjelaskan bahwa Allah Swt mengingatkan kepada setiap orang tua hendaknya mempersiapkan masa depan (kelansungan hidup) anakanaknya agar tidak terlantar, yang justru akan menjadi beban bagi orang lain. Disamping mempersiapkan kebutuhan materi, setiap orang tua juga dituntut untuk mempersiapkan moral dan akhlak si anak, yakni membekali mereka dengan ilmu agama agar kelak mereka tidak menjadi sampah masyarakat. QS. Al-Ahzab ayat 70, dimulai dengan seruan kepada orang-orang yang beriman. Ini menunjukkan bahwa salah satu konsekwensi keimanan adalah berkata dengan perkataan yang sadida. Dengan kata lain, qaulan sadida merupakan tolak ukur seorang hamba dalam konteks kualitas keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah Swt. Karena perkataan yang benar merupakan perkataan yang memiliki kesesuaian antara yang diucapkan dengan apa yang tergores dalam hatinya dan dengan apa yang dikerjakannya. Dengan demikian, perkataan yang benar dan penyampaian pesan yang benar serta diiringi dengan perbuatan yang benar merupakan pra-syarat untuk sebuah kebenaran (kebaikan dan kemaslahatan).

7.      Qaulan Syawira
QS. Al-Baqarah/2: 233;
Artinya; Maka apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. (QS. Al-Baqarah: 233)
QS. Ali ‘Imran/3: 159;
Artinya; Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.  kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali ‘Imran: 159)
QS. Asy-Syura/42: 38;
Artinya; Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. (QS. Asy-Syura: 38)
Kata Syawira berasal dari kata syara, yang bermakna mengambil madu, minta nasehat atau pendapat atau pertimbangan, bermusyawarah[16].
Mengambil madu atau mengeluarkan madu dari sarang lebah, merupakan makna dasar dari kata syawira. Makna ini kemudian berkembang sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat diambil atau dikeluarkan dari yang lain (termasuk mengeluarkan pendapat dalam bermusyawarah). Musyawarah dapat juga berarti mengatakan atau mengajukan sesuatu[17].
Dengan demikian, qaulan syawira dapat berarti sebagai suatu kegiatan untuk mencari kesepakatan yang benar, dimana dengan mempertimbangkan segala pendapat yang diutarakan, selanjutnya diambil sebuah keputusan yang tepat. Berkenaan dengan peminjaman (isti’arah) makna dasar syawira, yakni mengambil madu kepada musyawarah, Quraish Shihab mengatakan bahwa:
Madu dihasilkan oleh lebah. Jika demikian, yang bermusyawarah mesti bagaikan lebah: makhluk yang sangat berdisiplin, kerjasamanya mengagumkan, makanannya sari kembang, dan hasilnya madu. Dimanapun hinggap, lebah tak pernah merusak. Ia takkan mengganggu kecuali diganggu.
Bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat. Seperti itulah makna permusyawarahan, dan demikian pula sifat yang melakukannya. Tak heran jika Nabi Saw menyamakan seorang mukmin dengan lebah[18].

Di dalam QS. Al-Baqarah/2: 233, qaulan syawira disebutkan dalam konteks hubungan suami isteri. Dimana ketika mengambil sebuah keputusan mengenai urusan rumah tangga dan anak-anak (menyapih anak), haruslah dilandasi atas hasil musyawarah.
Sementara dalam QS. Ali Imran/3: 159, qaulan syawira disebutkan dalam konteks hubungan kemasyarakatan (hablu min an-nas). Dimana setiap urusan yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak (umum), haruslah ditempuh dengan musyawarah demi kemaslahatan bersama. Ayat ini memberikan petunjuk bagi setiap muslim, terutama para pemimpin agar senantiasa selalu bermusyawarah dalam menetapkan sebuah kebijakan. Sedangkan dalam QS. Asy-Syura/42: 38, qaulan syawira disebutkan sebagai bentuk pujian bagi kaum Ansar Madinah yang bersedia menerima dan membantu Rasulullah Saw beserta kaum Muhajirin Makkah. Dimana sebelum kedatangan Rasulullah Saw beserta kaum Muhajirin ke Madinah, mereka terlebih dahulu telah membicarakannya (bermusyawarah) di rumah Abu Ayyub AlAnsari[19].
Walaupun demikian, ayat ini tidak hanya bersifat kontekstual (pada masa itu saja) melainkan juga berlaku secara umum bagi keseluruhan kelompok masyarakat pada zaman sekarang ini dan seterusnya.

8.      Qaul az-Zur
QS. Al-Hajj/22: 30;
Artinya; Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataanperkataan dusta. (QS.Al-Hajj: 30)
Kata az-Zur mempunyai arti menyimpang, menyeleweng, kebohongan, kepalsuan. Sementara qaul az-Zur bermakna berkata dusta atau berbohong[20].
            Menurut as-Suyuthi dan al-Mahalli, qaul az-Zur mengandung pengertian yaitu sumpah palsu, dan sumpah palsu itu sebanding dengan perbuatan syirik. Karena syirik itu merupakan seburuk-buruk dari kedustaan dan kebohongan[21].
Maka dari itulah, Alquran mengarahkan kita agar selalu berkata benar dan menjauhi perkataan dusta. Karena berkata jujur dan benar akan menciptakan kemaslahatan bagi setiap orang, sebaliknya kebohongan dan mengada-ada akan mengakibatkan kebinasaan dan malapetaka terhadap semua umat manusia.
Prinsip-prinsip komunikasi yang telah disebutkan di atas merupakan landasan atau pondasi utama yang menentukan arah komunikasi, dimana segala bentuk komunikasi Islam dapat dibangun atas dasar prinsip-prinsip tersebut. Terlebih lagi para agen komunikasi, prinsip-prinsip komunikasi tersebut merupakan modal utama bagi mereka dalam upaya membangun komunikasi yang efektif. Hal ini dimaksudkan agar tugas yang dilaksanakan akan berjalan lancar sesuai dengan yang direncanakan, dan tentunya tercapainya tujuan serta membuahkan hasil yang diharapkan. Prinsip prinsip komunikasi tersebut juga memberikan pilihan bagi seseorang (komunikator) sesuai dengan kebutuhan dan keadaan komunikan. Status sosial, komunitas dan keadaan komunikan sangat menentukan prinsip komunikasi yang dikedepankan oleh komunikator agar komunikasi dapat dibangun dengan baik.
Melihat penjelasan beberapa ayat Alquran di atas, prinsip komunikasi yang paling tepat digunakan oleh agen komunikasi dalam penelitian ini adalah qaulan sadida, karena prinsip tersebut pemakaiannya adalah untuk mendidik para generasi (remaja) agar mereka menjadi generasi yang handal serta berguna bagi agama dan bangsa, dengan tidak mengesampingkan prinsip-prinsip komunikasi lainnya.
Sasaran-sasaran setiap prinsip komunikasi sebagaimana yang dijelaskan
Alquran adalah sebagai berikut:
1.      Qaulan baliga, untuk kaum munafiq.
2.      Qaulan maisura, untuk menolak permintaan tanpa menyakiti.
3.      Qaulan karima, berkomunikasi dengan kedua orang tua.
4.      Qaulan ma’rufa, berkomunikasi dengan fakir miskin.
5.      Qaulan layyina, untuk pemimpin/penguasa yang dhalim (seperti Fir’un).
6.      Qaulan sadida, untuk mendidik anak (remaja).
7.      Qaulan syawira, untuk mengambil sebuah keputusan yang bersifat kepentingan orang banyak (umum).
8.      Qaul az-zur, perhatian dan modal utama setiap orang dalam berkomunikasi; dengan siapa saja, dalam keadaan apa saja, dan dimana saja, senantiasa selalu untuk menjauhi perkataan yang mengandung unsur kedustaan dan kebohongan.

Disamping itu, komunikasi Islam juga mempunyai prinsip keterbukaan, dimana kejujuran yang selalu dikedepankan dan diprioritaskan. Dalam hal ini, kita bisa menelaah kembali apa yang telah dikembangkan oleh J. L. Harry Ingham, yaitu yang lebih dikenal dengan Johari Window. Salah satu yang dikembangkannya adalah adanya keterbukaan dalam berkomunikasi, yakni dalam berkomunikasi harus “known by ourselves and known by others”. Keterbukaan akan menjawab segala bentuk permasalahan dan sebaliknya, ketertutupan akan menciptakan permasalahan[22].
 Komunikasi baru dikatakan komunikatif jika antara masing-masing pihak (komunikator dan komunikan) mengerti bahasa yang digunakan dan paham terhadap apa yang dibicarakan. Disamping itu, komunikasi tidak hanya bersifat informatif tapi juga bersifat persuasive berkomunikasi bukan hanya terkait dengan penyampaian informasi, tapi juga bertujuan untuk membentuk pendapat umum (public opinion) dan sikap publik (public attitude)[23].
Sedangkan pengertian komunikasi Islam adalah suatu proses menyampaikan pesan atau informasi dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan prinsip dan kaedah komunikasi yang terdapat dalam Al-Qur`an dan Hadis, baik secara langsung atau tidak, melalui perantaraan media umum atau khusus, yang bertujuan untuk membentuk pandangan umum yang benar berdasarkan hakikat kebenaran agama dan memberi kesan kepada kehidupan seseorang dalam aspek aqidah, ibadah dan muamalah[24].
Berdasarkan pengertian komunikasi Islam di atas, jelas bahwa komunikasi Islam tidak terlepas dari prinsip dan kaedah komunikasi yang menjadi landasan atau acuan dalam proses berkomunikasi, serta menjadi pedoman bagi komunikator. Menggunakan prinsip atau kaedah komunikasi dimaksudkan untuk mencapai tujuan komunikasi Islam itu sendiri, yakni untuk membentuk pandangan yang benar berdasarkan hakikat kebenaran agama (Al-Qur`an dan Hadis), dan menjadikan komunikasi tidak hanya bersifat informatif melainkan juga bersifat persuasif.





[1] Fahri, dkk., Komunikasi Islam (Yoyakarta: AK Group, 2006), h. 21.
[2] Fahri, dkk., Komunikasi, h. 8-13.
[3] Fahri, Komunikasi Islam., h. 11-12.
[4] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir, Edisi II, Cet. XXV (Surabaya: Pustaka
Progressif, 2002), h. 107.
[5]Abu al-Qasim Al-Asfahani, al-Mufradat fi Gharib Alquran (Beirut: Dar al-Ma’rifah, tt), h.

[6]  Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Jilid II (Jakarta: Lentera Hati, 2000), h. 468.
[7] Jalaluddin as-Suyuti dan Jalaluddin al-Mahalli, Hasyiyah as-Sawi ‘ala Tafsir Jalalaini
(Bairut: Dar al-Fikri, 2004), Juz II, h. 431.
[8] Munawwir, Kamus Al-Munawwir., h. 1588.
[9] Munawwir, Kamus Al-Munawwir., h. 1203.
[10]  Munawwir, Kamus Al-Munawwir., h. 921
[11]Quraish Shihab, Wawasan Alquran; Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat, Cet. II
(Bandung: Mizan, 2007), h. 354.
[12]  Munawwir, Kamus Al-Munawwir., h. 1302.
[13]  Jalaluddin as-Suyuti dan Jalaluddin al-Mahalli, Hasyiyah as-Sawi ‘ala Tafsir Jalalaini
(Bairut: Dar al-Fikri, 2004), Juz III, h. 67.
[14]  Munawwir, Kamus Al-Munawwir., h. 620.
[15]  As-Suyuti dan al-Mahalli, Hasyiyah as-Sawi., Juz III, h. 357.
[16] Munawwir, Kamus Al-Munawwir..., h. 750.
[17]  Shihab, Wawasan Alquran..., h. 617.
[18]  Shihab, Wawasan Alquran...., h. 617.
[19] Jalaluddin as-Suyuti dan Jalaluddin al-Mahalli, Hasyiyah as-Sawi ‘ala Tafsir Jalalaini
(Bairut: Dar al-Fikri, 2004), Juz IV, h. 52.
[20]  Munawwir, Kamus Al-Munawwir., h. 592-593.
[21]  as-Suyuti dan al-Mahalli, Hasyiyah as-Sawi., Juz III, h. 122.
[22] Fahri, dkk., Komunikasi Islam., h. 14.
[23] Onong Uchana Effendy, Ilmu Komunikasi; Teori dan Praktek, Cet. XII (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1999), h. 9-10.

[24] Syukur Kholil, Komunikasi Islami (Bandung: Cita Pustaka, 2007), h. 2.