Makalah Komunikator Islami - RM Tutorial

Terbaru

27 April 2017

Makalah Komunikator Islami

BAB I PENDAHULUAN


Komunikasi merupakan aspek yang penting dalam hubungan manusia, manusia secara umum merupakan mahluk sosial, artinya manusia tidak dapat hidup secara individual, dengan kata lain komunikasi berfungsi sebagai arus informasi timbal balik dari seorang individu ke individu lainnya dengan adanya komunikasi maka akan memudahkan hubungan tersebut, manusia secara naluri membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya namun dalam penyampaian informasi
Komunikator adalah pihak yang bertindak sebagai pengirim pesan dalam sebuah proses komunikasi. Dengan kata lain, komunikator merupakan seseorang atau sekelompok orang yang berinisiatif untuk menjadi sumber dalam sebuah hubungan. Seorang komunikator tidak hanya berperan dalam menyampaikan pesan kepada penerima, namun juga memberikan respons dan tanggapan, serta menjawab pertanyaan dan masukan yang disampaikan oleh penerima, dan publik yang terkena dampak dari proses komunikasi yang berlangsung, baik secara langsung maupun tidak langsung.
                Menyesuaikan perkataan dengan perbuatan dan akidah dengan perilaku, bukanlah perkara yang mudah dan tidak datar jalannya. Ia membutuhkan latihan, perjuangan, dan usaha. Ia membutuhkan hubungan dengan Allah, meminta bantuan dari-Nya, memohon pertolongan dengan petunjuk-Nya. Oleh karena itu, Al-Qur’an memberikan pengarahan kepada orang-orang yahudi yang dihadapinya pertama kali itu dan diarahkannya semua manusia sebagai konsekuensi logisnya agar memohon pertolongan dengan bersabar dan menunaikan shalat.


BAB II PEMBAHASAN


A.    Pengertian Komunikator

Komunikator adalah pihak yang mengirim pesan kepada khalayak. Dalam khazanah ilmu komunikasi, komunikator (communicator) bisa juga bertukar peran sebagai komunikan atau penerima pesan sehingga komunikator yang baik juga harus berusaha menjadi komunikan yang baik. Seorang sumber bisa menjadi komunikator/pembicara. Sebaliknya komunikator/pembicara tidak selalu sebagai sumber. Bisa jadi ia menjadi pelaksana (eksekutor) dari seorang sumber untuk menyampaikan,

B.     Komunikator yang Islami

komunikasi islami adalah Komunikasi yang berakhlak al-karimah berarti komunikasi yang bersumber kepada Al-Qur’an dan hadits. A. Muis (2001:720) mengatakan komunikasi islami memiliki perbedaan dengan non-islami. Perbedaan itu lebih pada isi pesan (content) komunikasi yang harus terikat perintah agama, dan dengan sendirinya pula unsur content mengikat unsure komunikator. Artinya, komunikator harus memiliki dan menjunjung tinggi nilai-nilai etika dalam menyampaikan pesan berbicara, berpidato, berkhotbah, berceramah, menyiarkan berita, menulis artikel, mewawancarai, mengkritik, melukis, menyanyi, bermain film, bermain sandiwara di panggung pertunjukan, menari, berolahraga, dan sebagainya.
Kemudian, seorang komunikator tidak boleh menggunakan simbol-simbol atau kata-kata yang kasar, yang menyinggung perasaan komunikan atau khalayak, juga tidak boleh memperlihatkan gerak-gerik, perilaku, cara pakaian yang menyalahi kaidah-kaidah agama.

            Islam sudah menganjurkan umatnya untuk berkomunikasi, landasan berkomunikasi dalam Islam:
·         QS. Al Hujarat ayat 13 ” Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu sekalian di sisi Allah adalah yang paling takwa diantara kamu sekalian”. Artinya Allah menyuruh kita untuk saling mengenal, mesipun berbeda suku, bangsa, budaya, warna kulit, dan sebagai manusia kita harus menjalin komunikasi yang baik. Allah juga menegaskan bahwa yang paling mulia di sisi Allah bukanlah yang paling kaya, yang paling cantik, yang paling pintar, dsbnya, namun yang paling mulia di sisi Allah adalah manusia yang paling bertakwa kepada Allah SWT.
·         Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka (H.R. Muslim).
Aktifitas dakwah tidak terlepas dari proses komunikasi dan untuk mencapai keberhasilan komunikasi salah satunya ditentukan oleh komunikator (da’i). Sehingga untuk mencapai keberhasilan komunikasi tersebut diperlukan komunikator yang kompeten dan Islami. Tulisan ini membahas bagaimana menjadi komunikator yang Islami.
   Komunikator yang Islami adalah komunikator yang  bisa berkomunikasi dengan nilai-nilai yang islami, tidak sombong, hingga lisan tidak sampai menyakiti orang lain, bahkan sebaliknya setiap kata yang diucapkan dapat menyejukkan hati. Sehingga untuk menjadi komunikator yang islami seorang komunikator tersebut harus menjalankan  nilai-nilai yang islami, tidak sombong dan memperhatikan lisan agar tidak sampai menyakiti orang lain, namun sebaliknya setiap kata yang diucapkan dapat menyejukkan hati. Nilai-nilai islami dalam berkomunikasi tersebut sudah tertuang dalam Al Qur’an.

C.    Etika komunikator

Etika adalah pedoman tingkah laku dan penilaian moral. Komunikator adalah pihak yang mengirim pesan kepada khalayak. Oleh karena itu, komunikator biasa disebut pengirim, sumber,  source atau encoder.  Secara umum etika merupakan cabang filsafat yang bertugas mencari ukuran baik buruk bagi tingkah laku manusia (kepatutan) serta merupakan dasar tingkah laku manusia bagaimana manusia harus bertindak. Namun pemahaman yang lebih jelas menyebutkan bahwa etika tidak menetapkan apa yang boleh dilakukan dan dilarang tetapi cenderung mengerti mengapa atau dasar apa harus menurut norma-norma tertentu.
Dalam berbagai literatur tentang komunikasi Islam kita dapat menemukan setidaknya enam jenis gaya bicara atau pembicaraan (qaulan) yang dikategorikan sebagai kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam, yaitu:
1.      Qaulan Sadida (perkataan yang benar, jujur)
Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraannya)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar (qaulan sadida)”. (QS. An Nisa ayat 9)

2.        Qaulan Baligha (tepat sasaran, komunikatif, to the point, mudah dimengerti)
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka Qaulan Baligha –perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”. (QS. An Nisa ayat 63)

3.        Qaulan Ma’rufa (perkataan yang baik)
 “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya] dan ucapkanlah Qaulan Ma’rufa –perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab ayat 32)

4.        Qaulan Karima (perkataan yang mulia)
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perktaan yang baik”. (QS. Al Isra’ ayat 23)

5.        Qaulan Layyinan (perkataan yang lembut)
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun karena benar-benar dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut”. (QS. Thaha ayat 43-44)
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lemahlembut, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas,” (Al A’raaf ayat 55)

6.        Qaulan Maysura (perkataan yang ringan)
Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhannya yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka Qaulan Maysura –ucapan yang mudah”. (QS. Al Isra’ ayat 28).

D.    Karakteristik Komunikator Islam

a.       Ikhlas
Seorang komunikator dalam
menjalin komunkasi dengan komunikan harus iklas dalam berkomunukasi .
Hal ini perlu diperhatikan dan harus dimulai dari perkara niat, sebagaimana hadist Rasulullah dari Umar bin Khattab,
"Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan.” (HR. Bukhari)
Niat merupakan perkara yang dapat mempengaruhi kadar amal seseorang dihadapan Allah, sebab niat seseorang akan mempengaruhi nilai amalannya. Sehingga jika ia meniatkan untuk suatu hal maka yang akan didapatinya hanyalah seperti hal itu.
b.      Ilmu.
tergantung pada ilmu yang dimiliki, cara penyampainya serta dalamnya ilmu yang dimilikinya.
“Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin 'Ufair Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab dari Yunus dari Ibnu Syihab berkata, Humaid bin Abdurrahman berkata; aku mendengar Mu'awiyyah memberi khutbah untuk kami, dia berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah faqihkan dia terhadap agama. Aku hanyalah yang membagi-bagikan sedang Allah yang memberi. Dan senantiasa ummat ini akan tegak diatas perintah Allah, mereka tidak akan celaka karena adanya orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang keputusan Allah".(HR. Bukhari)
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tidak meninggalkan atau mewariskan dirham, tapi mewariskan ilmu, dan inilah sebaik-baik warisan.
c.       Akhlak yang baik (Khusnul khuluk)
Ciri dari akhlak yang baik :
a.       Semua hal yang bermanfaat bagi manusia ia berikan.
b.      Menahan diri untuk tidak menyakiti manusia, sekecil apapun atau sebesar apapun, terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.
c.       Bersabar dari apa yang ia temui. Jika ia mendapatkan atau menemui kebaikan maka ia bersabar, dan jika ia menemui keburukan maka ia bersabar pula.
d.      Jika ada yang menyakitinya, ia mampu menahan diri dan bisa menampung perilaku-perilaku tersebut. Ia paham sebagai seorang da’i ia harus mampu dan siap menanggung derita. Rasulullah besabda
e.       "Penghuni surga itu ada tiga; pemilik kekuasaan yang sederhana, derma dan penolong, seorang yang berbelas kasih, berhati lunak kepada setiap kerabat dan orang muslim yang sangat menjaga diri dan memiliki tanggungan." (HR. Bukhari).
Para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah tentang amalan apa yang banyak memasukkan orang disurga. Rasulullah menjawab: “Akhlak yang baik”.
Orang yang baik akhlaknya adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah. Orang yang paling dekat dengan Rasulullah pada hari akhir nanti juga adalah orang yang paling baik akhlaknya. 
f.       Bersabar
g.      Hikmah
Hikmah adalah menempatkan atau meletakkan sesuatu pada tempatnya, atau menekuni amalan yang dilakukannya secara professional.
Seorang da’i harus bersikap lemah lembut dan memperhatikan maslahat dalam da’wahnya serta mndahulukan yang penting.







BAB III KESIMPULAN


Untuk menjadi seorang komunikator yang baik, terdapat beberapa hal yang perlu dipahami yakni seorang komunikator yang baik perlu menyusun dengan baik isi pesan yang akan disampaikan, sehingga pesan tersebut mudah dimengerti oleh pihak penerima. Komunikator yang baik juga harus mengetahui mana media yang paling tepat untuk mengirimkan pesan kepada penerima dan harus tahu bagaimana cara mengantisipasi gangguan yang akan muncul pada proses pengiriman pesan. Selain itu, komunikator yang baik akan bertanggung jawab memberikan tanggapan terhadap umpan balik (feedback) yang disampaikan oleh pihak penerima (receiver).
Komunikasi islami adalah komunikasi yang dibangun di atas prinsip-prinsip Islam yang memiliki roh kedamaian, keramahan, dan keselamatan. Komunkasi merupakan proses pertukaran informasi dan pikiran melalui bahasa verbal dan non verbal yang di landasi dengan nilai moral islam dan sesuai dengan syariat islam.





maaf makalahnya agak berantakan, bagi yang ingin download file word silahkan disini : Disini 

atau : Disini

Password rar : www.mahfudrm.xyz