Makalah Dimensi Akhlak dan Etika Islam - RM Tutorial

Terbaru

24 April 2017

Makalah Dimensi Akhlak dan Etika Islam

Akhlaq Terhadap Allah SWT

Menurut pendapat Quraish Shihab bahwa titik tolak akhlak kepada Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji; demikian agung sifat itu, jangankan manusia, malaikat pun tidak akan mampu menjangkaunya.
Menurut Kahar Masyhur dalam bukunya yang berjudul “Membina Moral dan Akhlak” bahwa akhlak terhadap Allah, itu antara lain :
a.       Cinta dan ikhlas kepada Allah SWT.
b.      Berbaik sangka kepada Allah SWT.
c.       Rela terhadap kadar dan qada (takdir baik dan buruk) dari Allah SWT.
d.      Bersyukur atas nikmat Allah SWT.
e.       Bertawakal/ berserah diri kepada Allah SWT.
f.       Senantiasa mengingat Allah SWT.
g.      Memikirkan keindahan ciptaan Allah SWT.
h.      Melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Allah SWT.

Dari uraian-uraian diatas dapat dipahami bahwa akhlak terhadap Allah SWT, manusia seharusnya selalu mengabdikan diri hanya kepada-Nya semata dengan penuh keikhlasan dan bersyukur kepada-Nya, sehingga ibadah yang dilakukan ditujukan untuk memperoleh keridhaan-Nya.
Dalam melaksanakan kewajiban yang diperintahkan oleh  Allah, terutama melaksanakan ibadah-ibadah pokok, seperti shalat, zakat, puasa, haji, haruslah menjaga kebersihan badan dan pakaian, lahir dan batin dengan penuh keikhlasan. Tentu yang tersebut bersumber kepada al-Qur’an yang harus dipelajari dan dipelihara kemurnianya dan pelestarianya oleh umat Islam.
Akhlaq Terhadap Rasulullah SAW
Disamping akhlak kepada Allah Swt, sebagai muslim kita juga harus berakhlak kepada Rasulullah Saw, meskipun beliau sudah wafat dan kita tidak berjumpa dengannya, namun keimanan kita kepadanya membuat kita harus berakhlak baik kepadanya, sebagaimana keimanan kita kepada Allah Swt membuat kita harus berakhlak baik kepada-Nya. Meskipun demikian, akhlak baik kepada Rasul pada masa sekarang tidak bisa kita wujudkan dalam bentuk lahiriyah atau jasmaniyah secara langsung sebagaimana para sahabat telah melakukannya.
a.       Ridha Dalam Beriman Kepada RasulIman kepada Rasul Saw, merupakan salah satu bagian dari rukun iman. Keimanan akan terasa menjadi nikmat dan lezat manakala kita memiliki rasa ridha dalam keimanan sehingga membuktikan konsekuensi iman merupakan sesuatu yang menjadi kebutuhan. Karenanya membuktikan keimanan dengan amal yang shaleh merupakan bukan suatu beban yang memberatkan, begitulah memang bila sudah ridha. Ridha dalam beriman kepada Rasul inilah sesuatu yang harus kita nyatakan sebagaimana hadits Nabi Saw: Aku ridha kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I dan Ibnu Majah).
b.      Mencintai dan Memuliakan Rasul, Keharusan yang harus kita tunjukkan dalam akhlak yang baik kepada Rasul adalah mencintai beliau setelah kecintaan kita kepada Allah Swt. Penegasan bahwa urutan kecintaan kepada Rasul setelah kecintaan kepada Allah disebutkan dalam firman Allah yang artinya: Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dasn (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (QS 9:24).
Disamping itu, manakala seseorang yang telah mengaku beriman tapi lebih mencintai yang lain selain Allah dan Rasul-Nya, maka Rasulullah Saw tidak mau mengakuinya sebagai orang yang beriman, beliau bersabda:
Tidak beriman seseorang diantara kamu sebelum aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya dan semua manusia (HR. Bukhari, Muslim dan Nasa’i).
c.       Mengikuti dan Mentaati Rasul, Mengikuti dan mentaati Rasul merupakan sesuatu yang bersifat mutlak bagi orang-orang yang beriman. Karena itu, hal ini menjadi salah satu bagian penting dari akhlak kepada Rasul, bahkan Allah Swt akan menempatkan orang yang mentaati Allah dan Rasul ke dalam derajat yang tinggi dan mulia, hal ini terdapat dalam firman Allah yang artinya: Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, orang-orang yang benar, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (QS 4:69).
d.      Mengucapkan Shawalat dan Salam Kepada Rasul, Secara harfiyah, shalawat berasal dari kata ash shalah yang berarti do’a, istighfar dan rahmah. Kalau Allah bershalawat kepada Nabi, itu berarti Allah memberi ampunan dan rahmat kepada Nabi, inilah salah satu makna dari firman Allah yang artinya: Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan Ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS 33:56).
e.       Menghidupkan Sunnah Rasul, Kepada umatnya, Rasulullah Saw tidak mewariskan harta yang banyak, tapi yang beliau wariskan adalah Al-Qur’an dan sunnah, karena itu kaum muslimin yang berakhlak baik kepadanya akan selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah (hadits) agar tidak sesat, beliau bersabda: Aku tinggalkan kepadamu dua pusaka, kamu tidak akan tersesat selamanya bila berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnahku (HR. Hakim).
f.       Menghormati Pewaris Rasul, Berakhlak baik kepada Rasul Saw juga berarti harus menghormati para pewarisnya, yakni para ulama yang konsisten dalam berpegang teguh kepada nilai-nilai Islam, yakni yang takut kepada Allah Swt dengan sebab ilmu yang dimilikinya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS 35:28). Kedudukan ulama sebagai pewaris Nabi dinyatakan oleh Rasulullah Saw: Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Sesungguhnya Nabi tidak tidak mewariskan uang dinar atau dirham, sesungguhnya Nabi hanya mewariskan ilmui kepada mereka, maka barangsiapa yang telah mendapatkannya berarti telah mengambil mbagian yang besar (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
g.      Melanjutkan Misi Rasul, Misi Rasul adalah menyebarluaskan dan menegakkan nilai-nilai Islam. Tugas yang mulia ini harus dilanjutkan oleh kaum muslimin, karena Rasul telah wafat dan Allah tidak akan mengutus lagi seorang Rasul. Meskipun demikian, menyampaikan nilai-nilai harus dengan kehati-hatian agar kita tidak menyampaikan sesuatu yang sebenarnya tidak ada dari Rasulullah Saw.

3.      Akhlaq Pribadi, akhlaq pribadi meliputi sebagai berikut:
·        Shidiq (ash-sidqu) artinya benar atau jujur, lawan dari dusta atau bohong (al-kazib). Seorang muslim dituntut untuk selalu benar lahir batin, benar hati (shidq al-qalb), benar perkataan (shidq al-hadist) dan benar perbuatan (shidq al-amal). Antara hati dan perkataan harus sama, tidak boleh berbeda, apalagi antara perkataan dan perbuatan.
·        Amanah, Amanah dalam pengertian yang sempit adalah memelihara titipan dan mengembalikannya kepada pemiliknya dalam bentuk semula. Sedangkan dalam pengertian yang luas amanah mencakup banyak hal seperti menyimpan rahasia orang, menjaga kehormatan orang lain, menjaga dirinya sendiri, menunaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya, dll.
·        Istiqamah,Secara etimologis, istiqamah berasal dari kata istaqama-yastaqimu yang berarti tegak lurus. Dalam terminologi Akhlaq, istiqamah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan.
·        Iffah,Iffah merupakan bentuk masdar dari Affa-ya’iffu‘iffah yang berarti menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, juga berarti kesucian tubuh. Dari sudut pandang yang berbeda, iffah berarti memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak dan menjatuhkanya.
·        Mujahadah, Dalam konteks akhlaq, mujahadah adalah mencurahkan segala kemampuan untuk melepaskan diri dari segala hal yang menghambat pendekatan diri terhadap Allah SWT, baik hambatan yang bersifat internal maupun eksternal. Untuk mengatasi hambatan tersebut diperlukan kemauan dan perjuangna yang sungguh-sunggguh.Apabila seorang bermujahadah untuk mencari keridhaan Allah SWT, maka Allah berjanji akan menunjukan jalan kepadanya untuk mencapai tujuan tersebut.
·        Syaja’ah, Syaja’ah artinya berani, tapi bukan berani dalam arti siap menantang siapa saja tanpa mempedulikan apakah dia berada di pihak yang benar atau salah, dan bukan pula berani memperturutkan hawa nafsu. Keberanian tidaklah ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi ditentukan oleh kekuatan hati dan kebersihan jiwa. Bentuk-bentuk keberanian yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah  antara lain sebagai berikut:
1.      Keberanian menghadapi musuh dalam peperangan (jihad fi sabilillah).
2.      Keberanian menyatakan kebenaran sekalipun dihadapan penguasa zalim.
3.      Keberanian untuk mengendalikan diri tatkala marah sekalipun dia mampu melampiaskannya.
·        Tawadlu, Merendahkan diri (tawadlu) adalah sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan juga di hadapan seluruh makhluk-Nya. Setiap orang mencintai sifat ini sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mencintainya. Tawadlu juga bisa diartikan rendah hati atau tidak sombong. Orang yang tawadlu adalah orang menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah SWT.
·        Zuhud, Arti kata zuhud adalah tidak ingin kepada sesuatu dengan meninggalkannya. Menurut istilah zuhud adalah berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi dengan mengharap dan menginginkan sesuatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akherat. Menurut AI Gazali membagi zuhud juga dalam tiga tingkatan yaitu:
·        Meninggalkan sesuatu karena menginginkan sesuatu yang lebih baik dari padanya.
·        Meninggalkan keduniaan karena mengharap sesuatu yang bersifat keakheratan.
·        Meninggalkan segala sesuatu selain Allah karena terlalu mencintai-Nya
h.      Sabar dan Pemaaf, Sabar berasal dari assabru yang artinya adalah menahan. Karena sabar itu adalah menahan berarti sabar adalah suatu aktivitas bukan pasivitas, suatu perlawanan bukan suatu penyerahan, suatu yang memerlukan pengorbanan. Misalnya kita merasa kesal kepada orang lain karena ada ketidakcocokan atau karena ia melakukan suatu kessalahan dan ingin rasanya melampiaskan kekesalan dan kebencian, maka keinginan semacam itu kita tahan, itu namanya sabar.

4.      Akhlaq Dalam Keluarga
Kedudukan Anak Menurut Agama, Anak sebagai perhiasan kehidupan dunia, Anak sebagai ujian bagi orang tua, Anak sebagai penghibur hati
Akhlak Orang Tua Terhadap Anak : memberi nama yang baik pada anaknya dan memilih calon ibu yang baik untuk nya
Akhlak anak kepada orang tua, selalu memuliakan orang tua dan menghormatinya.tidak berjalan di depannya atau mendahului keduanya kecuali dalam eadaan terpaksa. tidak menghardik orang tua atau menjawab panggilannya dengan kasar. jangan bermuka cemberut di depan keduanya. selalu meminta ijin ketika akan berpergian. selalu mengharapkan ridho dari keduanya.
Berbicara akhlak dalam keluarga, tentu tidak terlepas dari pola sikap antaranggota keluarga. Bagaimana tingkah laku ayah terhadap ibu, ibu terhadap ayah, ayah terhadap anak, ibu terhadap anak, anak terhadap sesama saudara, dan anak terhadap kedua orang tua, adalah wujud akhlak dalam keluarga.
Sikap terpuji antaranggota keluarga menjadikan sebuah keluarga menjadi harmonis dan penuh cinta. Demikian pula sebaliknya. Apabila keluarga tidak dihiasi dengan akhlak yang baik, ketentraman keluarga bisa jadi di ujung tanduk. Keluarga yang terbangun menjadi tidak harmonis. Apalagi, bahagia. Sebuah akhlak mulia perlu dipupuk sedikit demi sedikit sehingga membuahkan kenyamanan dalam berinteraksi dengan anggota keluarga lain.
Akhlak Antara Ayah dan Ibu: Di dalam Islam, ayah dan ibu atau suami dan istri memiliki hak dan kewajiban sama meskipun tugas masing-masing berbeda. Sang ayah sebagai kepala rumah tangga mempunyai tugas untuk memberi nafkah atau rezeki bagi seluruh anggota keluarga, termasuk sang istri.
Ayah ibarat seorang masinis di kereta api rumah tangga karena segala keputusan ayah menjadi pilihan bagi keluarganya. Demikian pula dengan sang ibu. Seorang ibu mempunyai kewajiban mengurus rumah tangga dengan penuh tanggung jawab dan keteladanan. Ibu juga memiliki kewajiban memberikan saran dan masukan kepada suami untuk mengatur arah gerbong keluarganya kelak.
Akhlak terhadap suami dan isteri, akhlaq itu antara lain, adalah Kewajiban suami kepada isteri Kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang suami terhadap isteri antara lain :
a.      Mahar, Mahar adalah pemberian wajib dari suami untuk isteri, suami tidak boleh menggunakanya tanpa seizin dan seikhlas isteri.
b.      Nafkah, Nafkah adalah menyediakan segala keperluan isteri berupa makanan, minuman, pakaian, rumah, dan lain-lain.
c.       Ihsan al-‘Asyarah, Ihsan al-‘Asyarah artinya bergaul dengan isteri dengan cara yangsebaik-baiknya. Teknisnya dapat dilakukan menurut pribadi masing-masing. Misalnya : membuat isteri bahagia, selalu berprasangka baik terhadap isteri, membantu isteri apabila ia memerlukan bantuan meskipun dalam urusan rumah tangga, menghormati harta miliknya pribadi dan lain-lain.
d.      Membimbing dan Mendidik Keagamaan IsteriSeorang suami memiliki tanggung jawab dihadapan Allah terhadap isterinya karena suami merupakan pemimpin didalam rumahtangga. Maka, suami berkewajiban mengajar dan mendidik isterinya agarmenjadi seorang wanita shalihah.Jika seorang suami tidak mampu mengajarkannya sendiri, dia harus memberikan izin kepada isterinya untuk belajar di luar atau mendatangkan guru ke rumah, atau menyediakan buku-buku bacaan untuk keluarga.

Akhlak suami terhadap isteri antara lain adalah Kewajiban Isteri Terhadap Suami Ada dua kewajiban seorang isteri terhadap suami, antara lain:
a.      Patuh Terhadap Suami Seorang isteri wajib mematuhi segala keinginan suaminya selama tidak untuk hal-hal yang mendekati kemaksiatan dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Suami mendapatkan hak istimewa untuk dipatuhi isteri mengingat posisinya sebagai pemimpin dan kepala keluarga yang mempunyai kewajiban untuk memberi nafkah terhadap keluarga.
b.      Ihsan al ‘Asyarah Ihsan al ‘Asyarah isteri terhadap suaminya antara lain dalam bentuk Menerima pemberian suami dengan rasa puas dan terima kasih, serta tidak menuntut hal-hal yang tidak mungkin, serta selalu berpenampilan menarik agar tercipta keharmonisan dalam keluarga.

5.      Akhlaq Bermasyarakat
a.      Akhlaq dalam Bertamu dan Menerima Tamu,  Islam memberikan tuntunan bagaimana sebaiknya kegiatan bertamu dan bagaimana menerima tamu. Sebelum memasuki rumah seseorang, hendaklah yang bertamu terlebih dahulu meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuni rumah. Sebagaiman dijelaskan allah dalam firmannya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu (selalu) ingat” (QS. Surat an-nur: 27)
Jika tamu datang dari tempat jauh dan ingin menginap, tuan rumah wajib menerima dan menjamunya maksimal tiga hari tiga malam menurut rasul saw, menjamu tamu lebih dari tiga hari nilainya sedekah.
b.      Hubungan Baik dengan Tetangga, Rasulullah saw mengatakan, bahwa tetangga yang baik adalah salah satu, dari tiga hal yang mebahagiakan hidup.“ Diantara yang membuat bahagia seorang muslim adalah tetangga yang  baik, rumah yang lapang dan kendaraan yang nyaman” (HR. Hakim)
c.       Hubungan Baik dengan Masyarakat, Adab Bergaul Dalam Masyarakat :
·         Adab bergaul dengan yang lebih tua, Islam mengajarkan bahwa setelah kita menghormati atau menggauli kedua orang tua dengan penuh kesayangan dan mendo’akannya. Kitapun dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang tua lainnya dengan penuh hormat dan sopan santun. Karena bagaimanapun mereka adalah merupakan generasi pendahulu kita, yang mewariskan kebudayaan kepada kita sehingga kita dapat menikmati hasil perjuangan mereka. Dalam hal ini Nabi saw bersabda : "Sebagian tanda memuliakan Allah adalah menghormati orang islam yang telah putih rambutnya (tua). (HR. Abu Daud)".
·         Adab bergaul dengan orang yang sebaya, Pergaulan dengan orang yang sebaya adalah amat penting, karena dalam mengarungi kehidupan di dunia ini kita tidak luput dari kesulitan. Dan dalam mengatasi kesulitan itu akan lebih cepat tersatasi apabila kita banyak mendapatkan pertolongan orang-orang yang sebaya dengan kita, karena sama-sama merasakan nasip yang seimbang berdasarkan keseimbangan pengalaman, pengetahuan, usia dan lain sebagainya. Manusia itu tidak akan dapat dengan sempurna tanpa ada pertolongan orang lain. Firman Allah SWT : "Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikaan bersifat lemah". (QS. An Nisa’ : 28).
·         Adab bergaul dengan yang lebih muda Kita senantiasa dianjurkan untuk bersikap merendah, yakni bersifat sopan santun terhadap sesama orang mukmin, termasuk terhadap orang-orang yang lebih muda dari pada kita. Dalam Alqur’an Allah SWT berfirman :"Dan merendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (QS Al Hijr: 88)".